


Wasiat Ulama Kumail
bin Zaiyad An-Nakha'i1 berkata, bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu menggandeng
tanganku kemudian mengajakku keluar ke arah dataran tinggi. Ketika kami telah
berada di tempat yang tinggi,Ali bin Abu Thalib duduk kemudian menarik nafas panjang, la berkata, "Hal Kumal
bwi Zayyad. sesungguhnya hati adalah wadah, dan hati yang paling baik ialah
hati yang paling sadar. Jagalah apa yang saya katakan kepadamu. Manusia itu
terbagi ke dalam tiga kelompok; ulama Rabbani7, penuntut ilmu di atas Jalan
keselamatan, dan orang-orang Jelata pengikut semua penyeru. Kelompok terakhir
miring bersama dengan hembusan angin, tidak bersinar dengan cahaya Imu dan
tidak bersandar pada tiang yang kokoh. Ilmu lebih bait daripada harta. Ilmu menjagamu,
sedang engkau menjaga harta. Ilmu berkembang biak dengan diamalkan, sedang
harta berkurang dengan infak, dan mencintai Ilmu adalah agama. Ilmu membuat
ulama ditaati sepanjang hidupnya dan dikenang sepeninggalnya, sedang kebalkan
karena harta Itu hilang bersamaan dengan hilangnya harta. Para penyimpan harta
telah mati, padahal sebenarnya mereka masih hidup, sedang para ulama abadi
sepanjang zaman. Diri mereka telah sirna, namun suri tauladan mereka tetap
melekat di dalam hati.
Ha..haa.
Sesungguhnya di sini -sambil menunjuk ke dadanya ada ilmu, jika aku menerimanya dengan benar.
Namun,
sayang sekali, aku menerimanya dengan cepat memahaminya namun tidak amanah di
dalamnya, mempergunakan alat agama untuk membeli dunia, meminta diperlihatkan
hujjah-hujjah Allah terhadap Kttab-Nya, nikmat- nikmat- Nya terhadap hamba-hamba-Nya,
atau diberikan kepada orang-orang yang benar yang tidak mempunyai hujjah nyata
di dalamnya. Sifat ragu-ragu membekas dalam hati sejak awal syubhat yang datang
kepadanya, la tidak termasuk kelompok ini dan kelompok itu. la tidak mengetahui
di mana kebenaran berada? Jika ia berkata, ia salah. Jka ia salah, ia tidak
mengetahui kesalahannya, la hobi terhadap hal-hal yang hakikatnya tidak la
ketahui, la menjadi fitnah bagi orang yang terkena
fitnahnya.
Sesungguhnya puncak kebalkan adalah orang yang dikenalkan Allah kepada
agama-Nya, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia tidak mengenal
agamanya, la tenggelam dalam kenikmatan, gampang disetir syahwat, tergoda
mencari harta dan menumpuknya, serta bukan termasuk dai-dai agama. Sesuatu yang
paling mirip dengan mereka yaitu hewan ternak. Begitulah, ilmu mati dengan
kematian orang-orang yang mengembannya.'
Ya
Allah, betul sekail bahwa dunia tidak pernah sepi dari orang yang membela Allah
dengan hujjah-hujjah-Nya, agar hujjah-hujjah Allah dan keteranganketerangan- Nya
tidak terkalahkan. Mereka jumlahnya tidak seberapa banyak, namun mereka
orang-orang yang paling berat timbangannya di sisi Allah. Dengan mereka, Allah
membela hujjah-hujjah-Nya hingga mereka menunaikannya kepada orang-orang yang
semisal dengan mereka, dan menanamkannya ke dalam hati orang-orang yang seperti
mereka. Dengan mereka, ilmu menghadapi segala persoalan kemudian mereka
menganggap enteng apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang hidup mewah dan
tidak takut terhadap apa saja yang ditakutkan orang-orang bodoh. Mereka berada di
dunia dengan badan mereka, sedang ruh mereka berada di tempat yang tinggi.
Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan dai-dai-Nya kepada
agama-Nya.
Ha..Haa.
Aku ingin rindu Ingin melihat mereka. Aku meminta ampunan kepada Allah untukku
dan untuk-mu. J*a engkau mau, berdrilahl" (Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Hilyatu
At-Avtiya' jilid I hal. 79-80).
2. WASIAT
SUFYAN ATS-TSAURI KEPADA ABBAD BIN ABBAD AL-KHAWWASH AL-ARSUFI
Sufyan
Ats-Tsauri Rahimahutlah menulis surat kepada Abbad bin Abbad Al-Khawwash.
Dalam surat-nya, Sufyan Ats-Tsauri berkata.
"Amma
ba’du’.
Ketahulah,
bahwa sekarang ini engkau berada di zaman di mana sebelumnya para sahabat
Rasulullah Shallaltahu Ataihi wa Sallam meminta perlindungan dari berada
pada zaman tersebut. Mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki, dan
mempunyai keberanian yang tidak kita mtlkl. Maka bagaimana jika kita berada
pada zaman tersebut, sementara kita hanya bermodalkan ilmu yang pas-pasan,
sedikit kesabaran, sedikit pendukung dalam kebaikan manusia sedang rusak berat,
dan dunia sedang keruh? Hendaklah engkau berpegang teguh kepada ilmu, dan
merahasiakan diri, karena sekarang zamannya merahasiakan diri. Hendaklah engkau
melakukan uzlah (isolasi diri), dan tidak banyak bergaul dengan manusia.
Sebelum Ini, jika manusia bertemu, maka sebagian dari mereka mendapatkan
manfaat dari sebagian yang Lain. Sedang zaman kita sekarang, itu semua tidak
ada lagi, dan menurut pendapatku jalan keselamatan ialah dengan tidak bergaul dengan
mereka. Engkau Jangan mendekat kepada para penguasa dan menjalin hubungan dengan
mereka dalam urusan apa pun. Jangan tertipu, kemudian dikatakan kepadamu,
"Belalah! Lindungi orang yang teraniaya dan kembalikan barang yang diambil
dengan tidak hakl" Karena itu semua adalah tipuan iblis yang dijadikan
sebagal tangga oleh para ulama yang bejat.
Dulu
pernah dikatakan, Takutlah fitnah ahli Ibadah yang bodoh, dan orang berilmu
yang berdosa, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi siapa saja yang terkena
fitnah. Jika engkau mendapatkan permasalahan dan fatwa, maka manfaatkan baik
baik, dan jangan bersaing dengan manusia di dalamnya. Janganlah engkau menjadi
seperti orang yang Ingin ucapannya diamalkan, ucapannya disebarluaskan, dan
ucapannya didengar. Jika Itu semua tidak dilakukan, maka membekas dalam
dirinya."
Jangan
berambisi kepada jabatan, karena jika seseorang lebih mencintai jabatan
daripada emas dan perak, karena jabatan tersebut adalah pintu yang tidak Jelas
yang tidak bisa diketahui kecuali oleh para ulama. Periksalah dirimu dan beramallah
sesuai dengan niatnya. Ketahuilah, bahwa telah mendekat kepada manusia sesuatu
di mana seseorang ingin mati karenanya. Was Salam (Dwiwayatkan Abu
Nu'aim).
3. WASIAT
ABBAD BIN ABBAD AL-KHAWWASH KEPADA
AHLU AS-SUNNAH WAL-JAMA'AH
Abbad
bin Abbad Al-Khawwash Asy-Syami Abu Utbah berkata,
"Amma
ba'du.
Berpikirlah,
karena akal adalah nikmat yang bisa berubah menjadi penyesalan. Karena tidak
tertutup kemungkinan orang yang mempunyai akal itu menyibukkan hatinya dengan
memperdalam sesuatu yang madharatnya lebih banyak daripada manfaatnya, hingga
la menjadi pelupa.
Al-Qur"an
adalah panutan Rasulullah SAW,, dan beliau adalah panutan sahabat sahabatnya,
serta para sahabatnya adalah panutan bagi generasi-generasi sesudah mereka. Mereka
orang-orang yang terkenal dan berasal dari negeri yang berbeda. Mereka sepakat
menolak orang-orang yang menuruti hawa nafsu, kendati di sisi lain terjadi
perbedaan pendapat dikalangan mereka, dan kendati orang-orang yang menuruti
hawa nafsunya berlarut-larut mengandalkan pendapatnya dalam hal yang beragam
dan menyimpang dari Jalan yang lurus. Karena ulah mereka, orang-orang yang paling
bingung di antara mereka tersesat di tempat rawan bahaya, kemudia mereka
memikirkan hal-hal tersebut dengan sewenang-wenang. Setiap kali syetan
menciptakan bidah untuk mereka dalam kesesatan mereka, mereka pindah dari satu
bitlah kepada bld'ah yang lain, karena mereka tidak mau mencari jejak generasi
salaf, dan tidak meniru kaum Muhajirin.
Disebutkan
dari Umar bin Khaththab Radhtyattahu Anhu yang berkata kepada Zayyad, Tahukah
engkau apa saja yang menghancurkan Islam? (Yang menghancurkan Islam) ialah
kesalahan ulama, mendebat orang munafik dengan Al Qur"an dan para pemimpin
yang sesat.'
Bertakwalah
kepada Allah dan terhadap ghibah, adu domba, dan si dua mulut dan dua wajah
(orang munafik) pada para qari kalian, dan orang-orang masjid
kalian Disebutkan, bahwa barangsiapa
bersikap dua wajah (munafik) di dunia, la pun bersikap dua wajah di neraka.
Allah.
Allah. Lindungilah kesucian orang-orang yang tidak hadir di sini dan jagalah
lidahmu dari mereka kecuali perkataan yang baik. Berilah nasihat Allah pada
ummat kalian sebab kalian adalah pengemban Al-Kitab (Al-Quran) dan Sunnah.
Sesungguhnya Al-Kitab (Al-Quran) Itu tidak berbicara hingga ia diucapkan
(dibaca) dan sesungguhnya Sunnah itu tidak bisa beramal hingga ia diamalkan.
Kapan
orang bodoh bisa belajar Jika orang berilmu memilih diam, la tidak melarang
kemungkaran yang terlihat, dan tidak menyuruh pengerjaan kebaikan yang tidak diamalkan?
Sungguh
Allah telah membuat perjanjian dengan Ahli Kitab agar mereka menjelaskan
Al-Kitab kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Bertakwalah kepada Allah,
karena sekarang kalian sedang berada pada zaman dimana sifat wara' semakin
menipis, sifat khusyu' semakin berkurang, dan yang membawa Ilmu itu Justru
orang-orang yang merusaknya. Mereka lebih senang dikenal sebagal orang-orang
yang mengemban Ilmu dan tidak suka dikenal sebagai oang-orang yang
menyia-nyiakannya. Mereka berbicara Imu berdasarkan hawa nafsu ketika mereka
memasukkan kesalahan di dalam Ilmu tersebut. Mereka merubah Al-Kittab
(Al-Qur"an), meninggalkan kebenaran, dan mengamalkan kebatilan. Dosa-dosa
mereka tidak akan diampuni dan kelalaian mereka tidak akan diakui.
Bagaimana
orang yang ingin mendapatkan petunjuk bisa mendapatkan petunjuk, jika dalilnya
saja membingungkan?
Orang
yang mengamalkan kebenaran itu senantiasa berkata, kendati ia diam. Disebutkan,
bahwa Allah Ta 'ala befirman,
'Sesungguhnya
Aku tidak menerima semua ucapan orang bijak, namun Aku melihat kepada
keinginannya dan hawa nafsunya. Jika keinginannya dan hawa nafsunya untuk-Ku,
Aku menjadikan diamnya sebagai pujian dan ketenangan, kendati ia tidak
berbicara.'
Allah
Taata ber-firman,
'Perumpamaan
orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya
adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.' (Al-Jumu'ah:
5).
Allah
Ta'ala befirman,
'Peganglah
teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu." (Al-Baqarah:
63).
Maksud
ayat di atas, amalkan apa saja yang ada di dalamnya! Terhadap Sunnah, kalian
Jangan hanya berkata tanpa mengamalkannya, karena mengakui Sunnah tanpa mengamalkannya
adalah perkataan bohong dan menyia-nyiakan ilmu. Kaitan Jangan mencela bid'ah
dengan maksud mempercantik diri dengan aibnya, karena kerusakan ahli bidah Itu tidak
menambah kebalkan kalian. Kalian jangan pula mencela bidah tersebut karena
ingin mendzalimi pelaku bidah, karena kedzaliman adalah termasuk kerusakan jiwa
kalian
Seorang
dokter tidak etis mengobati pasien dengan obat yang membuatnya sakit, karena
jika pasien tersebut sakit, dokter lebih sibuk memperhatikan penyakitnya
daripada mengobatinya. Namun seyogyanya dokter tersebut mencari kesehatan untuk
dirinya, agar ia mampu mengobati pasiennya. Hendaklah sesuatu yang kalian
larang dari saudara-saudara kalian itu berangkat dari penglihatan kalian
terhadap diri kalian, nasihat kalian kepada Rabb kalian, dan rasa iba kalian
kepada saudara-saudara kalian. Selain Itu, hendaklah kalian lebih sibuk memperhatikan
aib kalian daripada memperhatikan aib orang lain, hendaklah sebagian dari
kalian memberi nasihat kepada sebagian lain, dan memuliakan orang yang memberi
nasihat kepada kalian dan menertnanya dari kalian. Umar bin Khaththab R.A pernah
berkata,
"Semoga
Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibku kepadaku."
Curigailah
ucapan kalian dan ucapan orang-orang zaman kalianl Periksalah sebelum bicaral
Belajarlah kalian sebelum mengajari Karena akan datang suatu zaman dimana
kebenaran dan kebatilan terlihat sama-samar didalamnya, kebaikan di dalamnya
menjadi kemungkaran, dan kemungkaran di dalamnya menjadi kebaikan. Di antara kalian
ada orang yang bertaqarub (mendekat) kepada Allah dengan sesuatu yang malah
menjauhkannya dari Allah, dan di antara kalian ada orang yang ingin meraih
cinta-Nya dengan sesuatu yang malah membuatnya dlbenci Allah. Allah Taata befirman.
'Maka
apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk
lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh
syaitan)? (Fathir: 8).
Hendaklah
kalian bersikap menunggu dalam masalah-masalah syubhat, hingga kebenaran
terlihat jelas dengan bukti nyata, karena orang yang masuk ke dalam sesuatu
yang tidak diketahuinya itu berdosa. Barangsiapa melihat kepada Allah, Allah
pun melihat kepadanya. Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Al-Quran,
berimamlah kepadanya, menjadi pemimpwi dengannya, dan carilah jejak orang-orang
salaf di dalamnya.
Jika
para rahib dan pendeta tidak melindungi hilangnya kedudukan mereka, dan
rusaknya status mereka dengan melaksanakan Al-Kitab dan menjelaskannya kepada
manusia, mereka tidak akan merubah Al-Kitab
tersebut
dan tidak menyembunyikannya. Namun, mereka menentang Al-Kitab dengan amal perbuatan
mereka, dan menipu kaumnya dengan amal perbuatan mereka karena takut kedudukan
mereka hilang, dan kerusakan mereka terlihat oleh manusia. Untuk Itu, mereka
merubah Al-Kitab dengan penafsiran dan ayat-ayat yang tidak mampu mereka rubah
mereka menyembunyikannya. Mereka diam terhadap perbuatan diri mereka untuk menjaga
eksistensi kedudukan mereka dan diam terhadap amal perbuatan kaumnya untuk
bermain mata dengan mereka. Sungguh Allah telah mengambil perjanjian dari
orang-orang Ahli Kitab agar mereka menjelaskannya kepada manusia dan tidak
menyembunyikannya. Tragisnya, mereka berpaling daripadanya, dan menjadi teman
bagi mereka di dalamnya." (Diriwayatkan Ad-Da-rimi dan Abu Nu'aim).
4. WASIAT
UTBAH BIN GHAZWAN
Khalld
bin Umar Al-Adawl berkata, bahwa Utbah bin Ghazwan pernah berkhutbah kepada
kami. la mulai khutbahnya dengan memuji Allah, dan menyanjung-Nya. Setelah itu,
ia berkata,
"Amma
ba'du.
Sesungguhnya
dunia telah mengumumkan diri akan segera pergi. Dia akan pergi dengan cepat,
dan tidak ada yang tersisa di dalamnya kecuali sisa seperti sisa air minuman
yang diminum seseorang. Setelah Itu, kalian pindah ke negeri yang abadi. Oleh
karena Itu, pindahlah kalian dengan amal perbuatan kalian yang paling baik,
karena telah disebutkan kepada kami, bahwa batu dilemparkan dari atas tepi Jahannam
kemudian batu tersebut jatuh menggelinding di dalamnya selama tujuh puluh
tahun, namun belum sampai di dasarnya. Demi Allah, neraka Jahannam tersebut
pasti penuh. Apakah kalian heran?
Sungguh
juga telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara daun pintu disurga adalah
seperti perjalanan selama empat puluh tahun, dan pasti daun pintu tersebut
didatangi pada suatu hati, sedang la dalam keadaan penuh sesak. Sungguh, aku
adalah orang ketujuh bersama Rasulullah SAW dan kami tidak mempunyai
makanan selain daun-daun pohon, hingga mulut kami terluka. Kemudian aku mengambl
kain burdah, lalu menyobeknya menjadi dua; satu untuk aku pakai, dan satunya
untuk Sa'ad bin Malik". Dan sekarang, setiap dari kami menjadi salah seorang
gubernur di salah satu kota. Sesungguhnya aku berlindung diri kepada Allah dari
menjadi besar dalam diriku, sedang di sisi Allah bernilai kecil. Sesungguhnya
kenabian Itu telah terputus hingga yang tersisa adalah kerajaan, kalian akan
mengetahui perbuatan penguasa sepeninggal kami kelak (Diriwayatkan Muslim).
5. WASIAT
SUFYAN ATS-TSAURI
Sufyan
Ats-Tsauri berkata kepada Ali bin Al-Hasan dalam nasihatnya,
"Saudaraku,
hendaklah engkau makan dari penghasilan yang baik dan apa yang dihasilkan
tanganmu. Jangan memakan dan memakai kotoran manusia (zakat), karena
perumpamaan orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti ruang
atas yang tidak mempunyai ruang bawahnya, la selalu takut jatuh ke bawah dan
ruang atasnya rusak. Orang yang memakan kotoran manusia (zakat) Itu selalu
berbicara dengan hawa nafsu dan merendah kepada manusia karena takut mereka
menghindar daripadanya.
Saudaraku,
jika Anda memakan sesuatu dari manusia, maka Anda memotong lidah Anda,
menghormati sebagian manusia, dan menghina sebagian yang lain. Ini belum
termasuk apa yang menimpa Anda pada Hari Kiamat kelak. Sesungguhnya yang
diberikan kepadamu adalah kotorannya dan yang dimaksud dengan kotoran ini bahwa
orang tersebut mencuci amal perbuatannya dari dosa-dosa. Jika Anda memakan
sesuatu dari manusia; jika Anda diajak kepada kemungkaran. Anda pasti
menurutinya, karena orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti
orang yang bersekutu dengan orang lain dalam satu kepentingan dan ia harus
berbagi hasil dengannya.
Saudaraku,
lapar dan sedikit Ibadah Itu lebih baik daripada Anda kenyang dengan kotoran
manusia (zakat) dan banyak ibadah. Aku mendapat khabar, bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, ‘'Jika salah seorang dari kalian mengambil tali,
ke-mudian mengambil kayu bakar hingga membelakangi (memenuhi) punggungnya. Itu
lebti baik baginya daripada la berdiri di depan saudaranya; la mengemis
kepadanya, dan bertiarap kepadanya.' Aku juga mendapat khabar, bahwa Umar bin
Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata,
'Barangsiapa
di antara kalian kerja, kami memujinya. Dan barangsiapa di antara kalian tidak
kerja, kami mencurigainya.'
Umar
bin Khaththab Radhiyallahu Anhu juga berkata,
'Hai
para qari', angkatlah kepala kalian, dan kalian jangan menambah kekhusyukan
melebihi kekhusyukan yang ada di dalam hati. Berlomba lombalah kalian dalam
kebaikan, dan Jangan menjadi tanggungan orang lain, karena jalan ini telah
terlihat dengan jelas'
Ali
bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata.
'Sesungguhnya
orang yang makan dari tangan manusia adalah seperti orang
yang
menanam pohon di tanah milik orang lain.'
Jadi
bertakwalah kepada Allah, karena seseorang tidak mendapatkan sesuatu dari
manusia melainkan ia menjadi orang hina dan kerdil di mata manusia, padahal
kaum Mukminin itu adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.
Anda
jangan sekali-kali mencari uang dari pekerjaan kotor kemudian Anda menginfakkanya
dalam ketaatan kepada Allah, karena meninggalkan pekerjaan kotor adalah
kewajiban yang diwajibkan Allah, dan sesungguhnya Allah itu baik dan tidak
menerima kecuali yang baik-baik.
Tidakkah
Anda pernah melihat orang yang pakaiannya terkena air kencing, kemudian ia
ingin membersihkannya dan mencucinya dengan air kencing yang lain? Tidakkah
Anda lihat ia membersihkannya dengan air kencing yang lain?
Ya,
sesungguhnya kotoran itu tidak bisa dibersihkan kecuali dengan sesuatu yang
bersih. Demikian pula kesalahan, la tidak bisa dihapus kecuali dengan kebaikan.
Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali hal-hal yang baik baik,
serta sesungguhnya hal-hal yang haram itu tidak diterima dalam amal perbuatan
apa pun. Ataukah Anda pernah melihat seseorang melakukan dosa kemudian ia menghapusnya
dengan dosa yang lain? (Diriwayatkan Abu Nu'alm).
6. SURAT
UMAR BIN KHATHTHAB TENTANG KEHAKIMAN
KEPADA
ABU MUSA AL-ASTARI
Idris
bin Abu Abdullah bin Idris berkata, "Aku pernah mengunjungi Sa'id bin Abu
Burdah guna menanyakan surat-surat Umar bin Khaththab Radhlyallahu Anhu
yang dikirimkan kepada Abu Musa Al-Asya’ari. Sebelumnya Abu Musa Al-Asya’ari
telah berwasiat kepada Abu Burdah. Kemudian Abu Burdah mengeluarkan surat Umar
bin Khaththab Radhlyalliahu Anhu kepadaku,
dan di dalamnya ku lihat tulisan berikut, 'Amma ba'du. Sesungguhnya
kehakiman adalah kewajiban yang pasti, dan Sunnah yang harus diikuti?
Pahamilah, jika suatu perkara diajukan kepadamu Karena perkataan yang
benar tidak bermanfaat jika tidak dilaksanakan. Perlakukan sama semua
manusia dalam pandangan matamu, keadilanmu, dan kursimu Agar orang yang
berkedudukan tinggi tidak bermaksud jahat kepadamu dan orang lemah tidak
patah semangat untuk mendapatkan keadilan darimu.
Pahamilah
dan pahamilah apa saja yang tidak jelas dalam dadamu, selagi Al-Quran tidak
menurunkan ayat tentang hal tersebut, dan tidak disebutkan didalam Sunnah.
Ketahuilah
semua perumpamaan dan timbanglah sesuatu dengan sesuatu yang sama dengannya!
Perhatikan mana di antara perumpamaan tersebut yang Lebih dekat kepada Allah
dan paling mendekati kebenaran, kemudian ikuti dia dan berpegang teguhlah
kepadanya. Keputusan yang telah Anda berikan kemarin jangan menghalangimu untuk
mengkaji ulang dan mudah-mudahan Anda diberi petunjuk di dalamnya, karena
mengkaji ulang kebenaran itu lebih baik daripada berlarut-larut dalam kebatilan.
Kaum
Muslimin adalah pembela bagi sebagian di antara mereka, kecuali terhadap orang
yang sudah diputuskan mendapatkan hudud (hukuman), atau orang yang
terbiasa memberi kesaksian palsu, atau orang yang tidak jelas nasabnya. Tentukan
batas waktu kepada orang yang meng-klaim hak yang tidak ada atau barang bukti
yang adil karena barang bukti Itu merupakan hujjah yang sangat kuat, dan alasan
yang paling akurat. Jika la mengdatangkan barang bukti pada masa tersebut, ia
berhak mendapatkan haknya. Jika selama masa tersebut ia tidak mendatangkan
barang bukti, Anda mengadukan keputusan barang bukti kepada penuduh dan sumpah
kepada pihak yang tidak mengakui perbuatannya. Sesungguhnya Allah Tobaroka
wa Ta 'ala mengetahui apa saja yang ada di dalam hati , dan menolak syubhat
dari kalian. Anda jangan kalut merasa bosan dan menyakiti manusia dan menolak
pihak yang beperkara di pengadilan di mana Allah telah menyediakan pahala di dalamnya
dan memberikan simpanan yang baik di dalamnya. Barangsiapa niatnya baik, dan
niatnya Ikhlas karena Allah, maka Allah melindunginya dari manusia. Jika perdamaian
Itu boleh dilakukan antara kaum Muslimin, kecuali perdamaian yang menghalalkan
sesuatu yang haram, dan mengharamkan sesuatu yang halal." Barangsiapa
berhias untuk manusia, padahal Allah mengetahui itu bukan sifatnya, Allah
menghinanya. Maka bagaimana komentar Anda terhadap pahala Allah di dunia dan
akhirat ?. Akhirnya, as-salamu
"alaikum.
7. WASIAT WAHB
BIN MUNABBIH TENTANG AKHLAK MULIA
Wahb
bin Munabbih berkata, "Jika Anda hendak melakukan ketaatan kepada Allah Azza
Wajalla, maka seriuslah dalam nasihiatmu dan ilmumu karena Allah, karena
amal perbuatan tidak diterima dari orang yang bukan pemberi nasihat.
Sesungguhnya nasihat karena Allah Azza Wajalla itu tidak sempurna
kecuali dengan taat kepada Allah, seperti halnya buah yang baik; aromanya enak,
dan rasanya lezat. Itulah perumpamaan taat kepada Allah; aromanya ialah
nasihat, dan rasanya ialah amal perbuatan. Kemudian hiasilah ketaatan kepada
Allah dengan ilmu, sikap lemah lembut, dan fiqh.
Kemudian
muliakan dirimu dari akhlak orang-orang bodoh dan hiasilah dengan akhlak para
ulama! Biasakan dirimu mengerjakan amal perbuatan orang-orang lemah lembut dan
jauhkan dari perbuatan orang-orang celaka. Biasakan dirimu dengan sejarah hidup
para fuqaha' dan kosongkan dirimu dari jalan-jalan orang-orang bejat.
Jika
Anda mempunyai kelebihan, bantulah orang yang levelnya di bawah Anda dengan
kelebihan tersebut. Jika orang yang levelnya lebih rendah daripada level Anda
mempunyai kelemahan, bantulah dia hingga la menjadi selevel dengan Anda. karena
orang bijak itu mengumpulkan seluruh kelebihannya, kemudian memberikannya
kepada orang yang levelnya di bawahnya. Setelah itu, la mengamati kekurangan
orang-orang yang levelnya lebih rendah daripada level dirinya, kemudian ia
meluruskannya hingga sama dengan level dirinya. Jika orang bijak tersebut
seorang faqih (ahli fiqh), ia menanggung orang yang tidak mempunyai fiqh jika
orang tersebut ia lihat ingin bergaul dengannya. Jika orang bijak tersebut
mempunyai uang, ia memberikannya kepada orang yang tidak mempunyai uang.
Jika
orang bijak tersebut seorang dai, la memintakan ampunan kepada Allah untuk
orang yang berdosa Jika orang tersebut bisa diharapkan bertaubat.
Jika
orang bijak tersebut orang baik-baik, la berbuat baik kepada orang yang berbuat
jahat terhadap dirinya dan mengharapkan pahala dari sikapnya tersebut. la tidak
tergoda berbicara hingga ia bisa mengamalkan apa yang diucapkannya, la tidak
ingin melakukan ketaatan kepada Allah jika ia tidak mampu melakukannya. Jika la
mampu melakukan sedikit ketaatan kepada Allah, la memuji Allah, kemudian la
meminta apa yang belum mampu la kerjakan. Jika la mengetahui sebagian dari
hikmah (ilmu), la tidak merasa kenyang hingga la mempelajari ilmu yang belum la
miliki. Jika ia ingat kesalahannya, la menutupnya dari manusia, dan meminta ampunan
kepada Allah Yang Mampu memberi ampunan kepadanya. Kemudian ia tidak
menggunakan ucapannya untuk berbohong, karena bohong dalam bicara adalah
seperti hewan pemakan kayu; ia melihat luarnya bagus, namun ternyata dalamnya
busuk. Orang yang senantiasa tertipu dengan pohon tersebut mengklaim bahwa
pohon tersebut mampu menyangga apa yang ada di atasnya, hingga akhirnya pohon
tersebut merusak apa saja yang ada di dalamnya dan binasalah orang yang tertipu
dengannya.
Begitu
pula bohong dalam pembicaraan. Pelakunya selalu tertipu dengannya dan mengklaim
bahwa bohong tersebut membantu dirinya dalam memenuhi kebutuhannya dan
meningkatkan keinginannya. Hal tersebut terus terjadi pada dirinya hingga
ketertipuan orang tersebut dilihat orang-orang yang berakal dan ulama melihat
apa yang tidak bisa dilihat oleh mereka. Jika para ulama mengetahui persoalan
orang tersebut, dan kedoknya terlihat oleh mereka, mereka mendustakan informasinya,
membatalkan kesaksiannya, meragukan kejujurannya, melecehkan dirinya, tidak
suka duduk dengannya, merahasiakan rahasia-rahasia mereka dari orang tersebut,
menyembunyikan pembicaraan mereka, tidak memberikan amanah mereka kepada orang tersebut,
merahasiakan persoalan mereka dari orang tersebut, bermuka masam kepada orang
tersebut dalam masalah agama mereka dan masalah
kehidupan
mereka, tidak menghadirkan sesuatu apa pun kepada orang tersebut, tidak
mempercayai orang tersebut untuk menerima sedikit pun dari rahasia-rahasia
mereka, dan tidak memutuskan perkara yang dihadapi orang tersebut."
(Dwiwayatkan Abu Nu'aim)
8. WASIAT
AUN BIN ABDULLAH AL- UDZALI KEPADA ANAKNYA TENTANG KOREKSI DIRI
Aun
bin Abdullah berkata kepada anaknya, ketika ia menasehatinya. "Anakku,
jadilah engkau termasuk orang-orang yang menjauh dari orang yang dijauhi
keyakinan dan kesucian, dan termasuk orang-orang yang mendekat kepada orang
yang didekati sifat lemah lembut, dan penyayang, ia menjauh dari orang yang
dijauhi keyakinan dan kesucian bukan karena sombong dan takabur, la mendekat
kepada orang yang didekati sifat lemah lembut dan penyayang bukan karena Ingin
menipunya, la mencontoh generasi sebelumnya, dan menjadi panutan (Imam) bagi
generasi sesudahnya. Ilmunya tidak absen dari dirinya, dan kebodohannya tidak
hinggap kepadanya, la tidak bersikap terburu nafsu dalam hal-hal yang masih
meragukan dan memaafkan hal-hal yang sudah jelas baginya. Kebaikan bisa
diharapkan darinya, dan keburukan jauh darinya. Jika ia berkumpul dengan orang-orang
yang lalai, ia ditulis sebagai orang-orang yang ingat kepada Allah, dan jika ia
bersama dengan orang-orang yang ingat kepada Allah, la tidak dicatat sebagal
orang orang yang lalai. la tidak termakan oleh pujian orang yang tidak kenal
dengannya, dan tidak lupa mendata apa yang telah diketahuinya. Jika ia dianggap
suci oleh manusia, ia takut akan apa yang mereka ucapkan, dan memintakan
ampunan untuk mereka atas apa yang tidak mereka ketahui, la berkata, 'Aku lebih
tahu tentang diriku daripada orang lain, dan Tuhanku lebih tahu tentang diriku daripada
diriku sendiri.' la menganggap dirinya lamban dalam beramal, dan mengerjakan
amal shalih dengan perasaan khawatir, la tidak henti-hentinya berdzikir. Pada
sore hari. obsesinya ialah bersyukur, menghabiskan malam dengan waspada, dan
berada di pagi hari dengan perasaan gembira, la waspada terhadap sifat lalai
dan berbahagia dengan keberuntungan dan rahmat. Jika hawa nafsu mengajaknya ke
dalam hal-hal yang tidak disukainya, la tidak mentaattiya di dalam hal-hal yang
disukai Jiwanya. Keinginannya terletak pada hal-hal yang abadi, dan
kezuhudannya terletak pada hal-hal yang fana. la mengkombinasikan ilmu dengan
sikap santun, la diam agar selamat, la bicara untuk memberi pemahaman kepada
orang lain. la mengisolir diri agar mendapatkan keberuntungan, dan berinteraksi
agar bisa belajar dari orang lain. Terhadap kebaikan, la tidak diam dengan
lalai, dan tidak mendengarnya dengan lalai, la tidak membeberkan kejujurannya kepada
teman-temannya, tidak merahasiakan kesaksiannya terhadap para musuh, tidak mengerjakan
suatu amalan dengan riya', dan tidak meninggalkan amal shalih karena perasaan
malu. Majlis dzikir bersama orang-orang miskin lebih la sukai daripada majlis
hiburan dengan orang-orang kaya.
Anakku,
Janganlah engkau termasuk orang yang kagum meyakini hal-hal yang telah berlalu,
dan lupa meyakini hal-hal yang masih bisa diharapkan dan diminta. Terhadap
sesuatu yang telah berlalu, ia berkata, "Seandainya sesuatu tersebut telah
ditakdirkan, pasti la terjadi. Terhadap sesuatu yang masih ada, ia berkata,
Berusahalah hai manusia dengan cemas, dan tidak tenang. Ia tidak mempercayai
rizki yang telah dijatahkan kepadanya. Jiwanya tidak mengalahkannya terhadap
apa yang ia duga, dan ia tidak bisa mengalahkan jiwanya terhadap apa yang telah
la yakini, la serta ragu terhadap dirinya. Di antara bentuk dugaanya, ia tidak
dirahmati ketika akan meninggal dunia. Jika ia sakit, ia menyesal. Jika sehat,
ia merasa aman. Jika ia miskin, ia sedih. Jika kaya, ia didera banyak cobaan.
Jika menginginkan sesuatu, ia malas. Jika ia rajin, ia bersikap zuhud. ia
menginginkan sesuatu tanpa mau lelah. Dan tidak mau lelah terhadap apa yang
diinginkannya, la berkata, 'Saya tidak mau kerja kemudian lelah. Saya hanya mau
duduk-duduk kemudian berkhayal. Ia menginginkan ampunan, namun ia mengerjakan
kemaksiatan. Usia pertamanya adalah lalai, kemudian berubah menjadi kesulitan.
Akhir usianya ialah malas, ia panjang angan-angan, kemudian mendapatkan banyak
cobaan. Usianya panjang, namun ia tertipu, ia mengakui dosa sekaligus nikmat.
Jika ia memberi sesuatu kepada orang lain, ia ingin orang tersebut berterima
kasih kepadanya. Atau jika ia tidak memberi sesuatu kepada orang lain, ia
berkata. Tidak ditakdirkan.' Sungguh la telah bersikap kurang ajar, dan egois,
la berharap selamat, namun tidak bersikap hati-hati. ia mendambakan nikmatnya
ditambah, namun tidak bersyukur, la berhak bersyukur, namun sesungguhnya ia
sangat tidak layak dimaafkan, ia mengerjakan hal-hal yang tidak diperintahkan,
dan menyia-nyiakan hal-hal yang sangat bernilai. Jika ia meminta, ia berharap
mendapat banyak, ia berinfak hanya dengan sedikit harta. Hisabnya diperingan,
kemudian ia diberi sebatas kebutuhannya dan tidak diberi sesuatu yang malah
melenakannya. la tidak melihat sesuatu yang membuatnya kaya, melainkan kekayaan
yang membuatnya bertindak sewenang-wenang, ia tidak mampu mensyukuri nikmat
yang diberikan kepadanya dan mendambakan tambahan nikmat terhadap nikmat yang
masih tersisa, la menunda dirinya mensyukuri nikmat yang dianugerahkan kepadanya,
dan lupa bersyukur terhadap apa yang diberikan kepadanya. ia dilarang, namun tidak
berhenti perbuatan dosa. ia memerintahkan sesuatu yang tidak diperintahkan, ia
mencintai orang-orang shalih, namun la tidak mengerjakan amal perbuatan mereka,
la membenci orang-orang jahat, padahal termasuk salah seorang dari mereka, la
bersegera kepada dunia, padahal dunia itu fana, dan meninggalkan akhirat
padahal akhirat itu abadi.
Jika
ia sembuh dari penyakit, ia merasa sudah bertaubat. Jika la kembali diuji, ia
berkata seperti orang-orang zuhud di dunia, dan beramal didalamnya seperti
amalan orang-orang yang cinta akhirat. ia ingin mati sedang tidak berhenti dari
kejahatannya dalam hidupnya. Jika ia tidak diberi dunia, tidak terima. Jika ia diberi dunia, ia tidak
kenyang kenyang juga. Jika syahwat terlihat, ia berkata, "Engkau cukup
beramal saja.'
Kemudian
ia terjerumus ke dalam syahwat tersebut. Jika amal perbuatan tampak olehnya, ia
berkata, "Engkau cukup bersikap wara' saja.' Ketakutannya tidak bisa
menghilangkan kemalasannya, dan ambisinya tidak bisa memotivasinya untuk
beramal, la mengharapkan pahala tanpa amal perbuatan dan menunda taubat karena
panjang angan-angan, la tidak berusaha mengerjakan tujuan penciptaannya.
Keinginannya tertuju kepada rizki yang ditakdirkan untuknya, la takut kepada
manusia, dan tidak takut kepada Allah, ia berlindung diri kepada Allah dari
orang-orang yang berada di atas dirinya, dan tidak berlindung diri kepada Allah
dari orang-orang yang berada di bawahnya, la takut mati. la merasa aman dari
apa yang
ditakutinya,
padahal apa yang telah ditakutinya tersebut telah ia yakini, dan tidak putus
asa terhadap apa yang diharapkannya padahal apa yang diharapkannya tersebut
telah la yakini, la mengharapkan manfaat ilmu yang tidak la amalkan, dan merasa
aman dari madzarat kebodohan yang telah diyakininya. la melecehkan orang-orang
status sosialnya lebih rendah dari status social dirinya, dan lupa kepada hak
orang lain yang ada pada dirinya, la melihat kepada orang yang diberi rizki
lebih banyak daripada dirinya, dan lupa kepada orang-orang yang status
sosialnya di bawah dirinya, la takut kepada orang lain melebihi ketakutannya
kepada dosa-dosanya, la berharap banyak dengan amal perbuatan yang sangat
minimal, la pakar terhadap kekurangan orang lain, dan tidak pakar terhadap
kekurangan dirinya. Jika la ingat keyakinan, ia berkata, 'Orang-orang sebelum
kalian tidak seperti Ini.' Jika dikatakan kepadanya, 'Kenapa Anda tidak beramal
seperti amalan mereka?' la menjawab, "Siapakah yang bisa seperti mereka?
Jika bicara, la pandai, namun ia merasa kesulitan untuk beramal, la bersikap
amanah, selagi ia sehat dan senang dan berkhianat jika ia marah dan sedang
mendapat cobaan, ia bersikap santun agar dikenal sebagai orang yang amanah,
padahal ia bersikap demikian itu untuk berkhianat, la belajar bersahabat dalam
rangka untuk memusuhi, la bersegera kepada dosa-dosa, dan lamban dalam amal
shalih. Dosa lebih ringan baginya daripada rambut, la merasa berat hati
melakukan dzikir kepada Allah. Berfoya-foya bersama orang-orang kaya lebih ia
sukai daripada dzikir bersama orang-orang miskin, la buru-buru tidur, dan
menunda puasa, la tidak menggunakan waktu malamnya dengan qiyamullail, dan
tidak puasa di siang harinya. Pada pagi hari, obsesinya ialah malam segera
kemudian ia tidur dengan segera. Dan pada petang hari, obsesinya ialah bisa
segera makan malam." AI-Hajjaj menambahkan dari Al-Mas"ud, "Jika
ia shalat, la berpaling. Jika la rukuk, maka seperti unta menderum. Jika la sujud,
la seperti ayam mematuk makanan di tanah. Jika la meminta, la meminta dengan memaksa. Jika la diminta, la
menunda-nunda. Jika la berbicara, ia bersumpah. Jika ia bersimpati, ia
melanggar sumpahnya. Jika ia berjanji, ia tidak menetapinya. Jika ia dinasihati,
ia memberengut. Jika ia dipuji, la senang bukan kepalang. Tuntutannya ialah
keburukannya, dan peninggalannya adalah dosa. la tidak mempunyai kesibukan
memperhatikan aib dirinya, dan tidak mempunyai kelebihan dalam kebaikan, la
cenderung kepada hawa nafsunya, dan menginginkan hawa nafsunya mendapatkan keadilan
dari orang lain.
Para
pengkhianat adalah teman-teman dekatnya dan orang-orang yang Jujur adalah
musuh-musuh utamanya. Jika la mengucapkan salam, salamnya tidak didengar. Jika
ia mendengar salam, ia tidak menjawabnya, la melihat dengan seperti penglihatan
orang yang dengki, dan berpaling seperti berpalingnya pendendam, la
mentertawakan orang yang adil, dan makan seperti budak, la berani berkhianat,
dan lepas tangan dari sifat amanah.
Barangsiapa
mencintainya, la berdusta terhadapnya, dan barangsiapa membencinya, ia
menerkamnya, la tertawa tanpa sebab, la berjalan dengan tidak berakhlak. Orang
yang berdekatan dengannya tidak bisa selamat dari padanya, dan orang yang bergaul
dengannya tidak bisa selamat dari padanya. Jika Anda berbicara dengannya, la
membuat Anda bosan kepadanya. Jika ia berbicara dengan Anda, ia membuat Anda
gundah gulana. Jika Anda sepakat dengannya, ia dengki kepada Anda. Jika Anda menentangnya,
la marah kepada Anda. ia iri hati. Jika Anda diberi kelebihan, la pelit Jika
mempunyai kelebihan, dan iri kepada orang yang lebih baik daripada dirinya,
serta tidak mau beramal seperti amal perbuatannya, la tidak membalas orang yang
telah berbuat baik kepadanya, dan sikapnya berlebih lebihan
terhadap
orang yang berbuat jahat kepadanya, la tidak diam untuk selamat, dan la bicara
dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Mulutnya mengalahkan hatinya. Hatinya
tidak mampu mengendalikan lidahnya, la belajar untuk berdebat, la studi untuk
riya". la memperlihatkan kesombongannya, kemudian terlihatlah apa yang
selama Ini disembunyikannya, dan tidak tersembunyikan apa yang ia perlihatkan,
la
agresif
terhadap sesuatu yang fana, dan menyerah kalah terhadap sesuatu yang abadi, la
bersegera kepada dunia, dan tidak memperhatikan sifat takwa."
(Diriwayatkan Abu Nuaim).
9. WASIAT
ABU DZAR TENTANG INGAT MATI
An-Nadhr
bin Ismail berkata, bahwa aku mendengar Abu Dzar berkata, '’Adapun kematian, ia
telah kalian kenal, dan kalian melihatnya di setiap siang, dan malam. Kematian
terjadi pada orang mulia di keluarganya, terhormat di sanak familinya, dan
ditaati kaumnya, la pergi menuju liang kering, dan batu-batu besar yang bisu.
Keluarganya tidak mampu memberikan bantal kepadanya, karena bantalnya ketika
Itu adalah amal perbuatannya. Kematian juga terjadi pada orang yang sedih dan
terasing, ia dirundung banyak kesedihan selama hidup di dunia, dan bekerja lama
sekali hingga badannya lelah karenanya, kemudian kematian datang kepadanya
sebelum ia meraih keinginannya. Kematian datang kepadanya dengan tiba-tiba. Kematian
Juga terjadi pada anak yang masih menyusu, orang sakit keras, dan orang yang
tenggelam dalam kejahatan. Mereka semua mendapatkan jatah kematian. Tidakkah
para ahli ibadah mengambil ibrah dari ucapan para penceramah? Bisa aku katakan,
‘'Mahasuci Allah Yang Maha Agung. Sungguh Dia menunda kematian kepada kalian
hingga kalian berkesimpulan bahwa Allah lupa tidak mencabut nyawa kalian.
Setelah itu, aku kembali memikirkan kelembutan Allah dan kekuasaan-Nya, lalu
aku berkata lagi. Tidak, Justru Allah memberi kelonggaran kepada kita hingga
akhir ajal kita, yaitu sampai hari di mana penglihatan menjadi buram, dan hati
menjadi kering.' Allah Ta'ala befirman,
'Mereka
datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang
mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.' (Ibrahim:
43).
Ya
Tuhan, sungguh Engkau telah memberikan peringatan dan hujjah-Mu kepada
makhluk-Mu.
Kemudian
aku membaca ayat lain,
'Dan
berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu Itu) datang
azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzallm. Ya Tuhan kami,
beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia}
walaupun
dalam waktu yang sedikit'. ' (Ibrahim: 44).
Kemudian
Allah befirman,
'Hai
orang yang dzalim, engkau hidup sampai ajal yang engkau minta, maka pergunakan
ajal tersebut dengan baik sebelum la habis. Segera gunakan ajal tersebut sebelum
la hilang. Ajal terakhir ialah melihat ajal ketika kematian datang. Ketika
itulah, maaf tidak berguna lagi.'
Sesungguhnya
manusia adalah target utama kematian. Barangslapa dibidik oleh kematian dengan
anak panahnya, maka lemparan anak panah tersebut tidak meleset. Dan barangsiapa
dikehendaki kematian, maka keinginan kematian tersebut tidak terjadi pada orang
lain. Ketahuiah, sesungguhnya kebaikan terbesar ialah kebaikan akhirat yang abadi
dan tidak hilang. Sesuatu yang abadi itu tidak sirna, dan sesuatu yang
memanjang itu tidak terputus. Orang-orang mulia berada di dekat Allah Ta'ata.
Mereka mendapatkan apa saja yang disukai jiwa, dan disenangi mata. Mereka
saling mengunjungi dengan mengendarai onta . Mereka saling bertemu untuk
bernostalgia tentang hati-hati mereka di dunia. Selamat untuk mereka. Sungguh
mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena keinginan mereka
tertuju kepada Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Utama." (Diriwayatkan Abu
Nuaim).
10.
WASIAT HASAN BASRI KEPADA UMAR BIN ABDUL AZIZ
Hasan
Basri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, dan dalam suratnya Hasan Basri
berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur itu mengajak pelakunya kepada
kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan itu membuat pelakunya
meninggalkannya. Apa yang telah hilang kendati sangat banyak tidak bisa
dibandingkan dengan apa yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang
mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama
itu lebih baik daripada penyegeraan istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan
abadi. Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berkhianat, dan memperdaya. ia berhias
dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan
mimpi-mimpinya, dan membuat rindu para pelamarnya, hingga ia menjadi seperti
pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanya, semua
hati rindu kepadanya, dan semua jiwanya tertarik kepadanya, la menjadi pembunuh
bagi semua suami-suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar
dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil
pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari
banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak
ingat ketika ia diberi penjelasan tentang dunia. Akibatnya, hati manusia
mencintai dunia dan Jiwa mereka kikir dengannya. ini semua tidak lain bentuk
kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, la tidak
membiarkan yang lain. la mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya.
Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia. Perindu dunia telah
sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan dunia, ia lupa akan
prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut
oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya
dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalannya pun
menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa
sakitnya dengan sedih kehilangan dunia. Sedang orang kedua meninggal sebelum
berhasil memenuhi kebutuhannya, la pergi dari dunia dalam keadaan terpukul
hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya, dan Jiwanya tidak bisa istirahat
dari kelelahan, la keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa
oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena
dunia tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.
Berpalinglah
dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, karena jarang sekali sesuatu
yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia
dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia Itu menyakitkan dan engkau
yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena Itu, waspadalah wahai Amirul
Mukminin Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya
maka itu berubah menjadi kebencian. Orang yang gembira di dunia ialah orang
yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang
merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian
di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan
kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh
karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya,
dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.
Ketahulah,
bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang
tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali
lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apalagi ditunggui. Waspadalah
tertiadap dunia, karena mimpimu impinya dusta belaka, khayalan khayalannya batil,
kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah
keruh.
Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nkmat yang akan sirna, dan
cobaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang
memutus segala-galanya. Sungguh, dunia Itu melelahkan seseorang, jika la mau
berpikir, la berada dalam nikmat yang membahayakan, takut terhadap
musibah-musibah yang ada di dalamnya, dan meyakini kematian. Seandainya Allah
Yang Maha Pencipta tidak menyampaikan berita tentang dunia, tidak memberi perumpamaan
tentang dunia, dan tidak memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya,
pasti dunia membangunkan orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa
diri
Bagaimana
tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa jalla dan banyak
sekail penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wajalla tidak ada
bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta 'ala tidak seberat satu
kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah
tidak menciptakan makhluk yang lebih Dia benci daripada dunia seperti disampaikan
kepadaku dan Dia tidak melihat kepada-nya sejak Dia menciptakannya karena amat
benci kepadanya. Sungguh dunia dengan kunci-kunci nya dan semua simpanannya
yang nilainya di sisi Allah lebih ringan dari sayap lalat pernah diperlihatkan
kepada Nabi kita, Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam, namun beliau
menolak menerimanya, karena beliau telah mengetahui bahwa jika Allah membenci sesuatu,
beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus
mengkerdilkan nya. Dan jika Allah merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.
Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia
tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut.
Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa
yang direndahkan Pemiliknya.
Jika
Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dmia kepada beliau,
namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagal
pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa
bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari
dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya. Di antara hal
menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah Ta'ala menjauhkan
dunia dari orang-orang yang shalih dengan sukarela dan membentangkannya kepada
musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya. Orang yang tertipu dengan dunia dan
tergoda dengarnya menyangka bahwa ia dimuliakan Allah Ta 'ala dengan
dunia tersebut, la lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa Alaihis Salam.
Adapun
Rasulullah Shallallahu Alalhl wa Sallam, beliau mengikatkan batu di perutnya
karena saking laparnya. Adapun Nabi Musa Alaihis Salam, beliau tidak
meminta sesuatu kepada Allah Ta 'ala pada saat ia berteduh di bawah pohon,
selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparan nya. Sungguh
banyak sekali riwayat-riwayat dari Nabi Musa Alaihis Salam, bahwa Allah Ta'ala
mewahyukan kepada beliau, "Hai Musa, Jika engkau melihat kemiskinan
datang kepadamu, katakan, 'Selamat datang simbol orang-orang shalih.' Jka
engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, 'Ini adalah dosa yang
hukumannya dipercepat.'
Jika
engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa kepada baginda, karena ia amat menakjubkan,
la berkata, lauk-ku adalah lapar. Syiarku ialah takut. Pakaianku ialah wol. Hewan
kendaraan ku ialah kedua kakiku. Lampuku dimalam hari ialah bulan. Bahan
bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah buahanku dan penghidupanku ialah
apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam
keadaan tidak memiliki apa-apa. Dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku.'
Jika
engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis
Salam, karena la tidak kalah menakjubkan, la makan roti dari gandum,
memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya. Jika
malam telah tiba, la memakai baju dari tenunan kasar, dan tangannya ke lehernya,
la semalaman menangis hingga pagi hari. la makan makanan yang kasar, dan
mengenakan pakaian kasar. Kendati itu semua, mereka membenci apa saja yang
dlbenci Allah Ta'ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh
Allah Ta'ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap
zuhud di dalamnya. Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi
jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah-lelah, dan memahami ibrah, serta merenungi
diri. Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu
yang berakir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak
melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang
pahit, dan tidak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.
Mereka
mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit
yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka
makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka
seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang
melewatinya, pasti la menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga
sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk. Dunia
dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka merasa heran
terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan bersenang-senang
dengannya hingga rakus. Mereka berkata. Tidakkah kalian lihat bahwa mereka
tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?
Saudaraku,
demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk daripada
bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya, mereka
tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau busuk yang ada di
kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang
duduk di dekatnya. Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa
meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, ia sangat berkeinginan
seandainya dulu la menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang
buangan, atau orang selamat, la lebih senang seandainya di dunia dulu la
menjadi orang yang menderita, atau rakyat biasa. Jika engkau meninggalkan dunia
ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau di dunia ini menjadi orang
yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang paling miskin. Bukankah ini
cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina bagi orang yang
memikirkannya?
Demi
Allah, Jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia Ini melainkan la mendapati
dunia tersebut berada di sampingnya tanpa la kejar dan merasakan kelelahan.
Namun jika ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tersebut, ia mempunyai
hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta la
akan dihisab karenanya. Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang
berakal Itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi
makanannya dan kebutuhannya,mkarena khawatir akan ditanya tentang dunia
tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.
Sesingguhnya
dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari; hari kemarin
yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada di dalamnya yang
harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hati esok yang engkau tidak tahu
apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu
engkau meninggal dunia esok pagi
Adapun
kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat
teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah
membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya,
engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.
Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu,
berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau
jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hati ini, karena hal
tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau
kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari harimu. itu hal yang
mustahil, karena kesibukan itu sangat padat, kesedihan itu semakin bertambah,
kelelahan Itu semakin besar, dan seseorang
membuang
amal dengan inpian kosong. Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu,
engkau telah berbuat dengan baik pada hari ini, dan telah mengurangi
kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu
bersikap tidak serius, dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut. Jika
engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendisiskripsikan untukmu tentang
dunia di antara dua Jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan
datang, dan satu jam yang engkau sedang berada di dalamnya. Adapun satu jam
yang telah berlalu dan telah lewat, maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di
istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya
dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut
menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka. Adapun hari ini jka engkau
memikirkannya adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu.
Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan bait, la menjadi saksi bagimu,
memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk,
la berputar di kedua matamu. Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara.
Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk
terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi
darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, "Aku datang
kepadamu setelah kepergian saudaraku. Jika engkau berbuat baik kepadaku,
perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suaraku sebelum
ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hatilah-hatilah engkau,
jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian
saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berpikir. Periksalah apa yang telah
engkau saksikan jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah
pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu
Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan,
maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang. jangan sekali-kali
mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada di tanganmu
daripada engkau sendiri, padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah, jika
dikatakan kepada mayat di kuburan. inilah dunia Itu dari awal hingga akhir.
Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang
dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai
hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu?" Pasti la memilih pilihan
kedua. Bahkan, seandalnya la disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik
orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti la lebih memilih waktu
satu jam tersebut untuk dirinya. Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara
satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku
jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut. Periksalah
dirimu hari ini ihatlah waktu Agungkanlah katai Hati-hatilah terhadap kerugian
karena Hari Kiamat telah tiba Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat
bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.
Assalaamu
'Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh.
11. WASIAT-WASIAT
UMAR BIN ABDUL AZIZ TENTANG ILTIZAM DENGAN SUNNAH
Syihab
bin Khiasy berkata, bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada seseorang
dan dalam suratnya Umar bin Abdul Aziz berkata,"Salam sejahtera untukmu.
Ammaba'du.
Sesungguhnya
aku mewasiatkanmu agar engkau bertakwa kepada Allah, adil dalam perintah-Nya,
mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan meninggalkan semua bidah yang diciptakan para
pembuat bidah sepeninggal beliau. Ketahuiah, bahwa tidak ada satu bid’ah pun,
melainkan sebelumnya sudah ada petunjuk tentang bidah tersebut, dan di dalamnya
ada ibrah. Hendaklah engkau konsekwen dengan Sunnah, karena dengan izin
Allah Sunnah tersebut menjagamu, karena Sunnah tersebut ditetapkan oleh orang
yang telah mengetahui bahwa di luar Sunnah tersebut adalah kesalahan,
penyimpangan, dan kebodohan. Ridhalah terhadap dirimu sebagaimana salah satu
kaum ridha terhadap diri mereka, karena mereka berdiri di atas ilmu, dan mereka
menahan diri dengan mata yang tajam. Mereka sangat kuat dalam membongkar segala
permasalahan, dan mereka lebih berhak terhadap keutamaan yang ada di dalamnya.
Mereka adalah generasi Islam pertama. Jika kalian mempunyai petunjuk,
sesungguhnya mereka telah lebih dahulu memilikinya d armada kalian.
Jika
Anda berkata, bahwa telah terjadi bidah sepeninggal mereka, maka sesungguhnya
bid'ah tersebut tidak diciptakan kecuali oleh orang yang berbeda Jalan dengan
mereka dan la lebih mencintai dirinya daripada mereka. Sungguh mereka telah
berbicara dari Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dengan perkataan
yang tidak ada habis-habisnya, dan memberi sifat dari beliau dengan sifat yang
tidak ada habis-habisnya. Sedang orang-orang selain mereka, maka mereka sangat
pas-pasan, dan orang-orang di atas mereka tidak bisa berbuat baik seperti
mereka. Sungguh, banyak sekali orang-orang yang bersikap tidak etis terhadap
mereka, akibatnya mereka kasar tabiatnya. Dan Juga banyak sekail orang orang
yang berambisi seperti mereka kemudian mereka bertindak berlebih-lebihan.
Sedang generasi pertama Islam, mereka tidak seperti itu, namun mereka berada di
atas jalan yang lurus." Imam Malik berkata, bahwa Umar bin Abdul Aziz
pernah berkata,
"Rasulullah
Shalallahu Alaihi wa Sallam dan para penguasa sepeninggalnya telah
membuat Sunnah-Sunnah. Mengambil Sunnah-Sunnah tersebut adalah membenarkan
Kttabullah, menyempurnakan ketaatan kepada Allah, dan merupakan bentuk kekuatan
terhadap agama Allah. Barangsiapa mengambil petunjuk dengan Sunnah-Sunnah
tersebut, sungguh la telah mendapatkan petunjuk. Barangsiapa meminta
pertolongan dengan Sunnah-Sunnah tersebut, ia ditolong. Barangsiapa
menentangnya, ia mengikuti selain Jalan kaum Mukminin, Allah menguasakannya
kepada siapa yang dikehendaki-Nya, memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, dan neraka
Jahannam adalah tempat kembali yang paling buruk."
Imam
Malik berkata,
"Aku
tertarik kepada Umar bin Abdul Aziz ketika la mewajibkan neraka bagi orang yang
menentang Sunnah." Tentang ucapan Umar bin Abdul Aziz, "Merupakan
bentuk kekuatan terhadap agama Allah,".
Imam
Malik menambahkan,
"Siapa
pun orangnya tidak berhak merubah Sunnah-Sunnah tersebut, atau menggantinya,
atau menentang sedikit pun daripadanya."
12.
WASIAT AHMAD BIN HANBAL TENTANG MENDIAMKAN PELAKU
BID'AH
Abu
Ali Hanbal bin lshaq bin Hanbal berkata, bahwa seseorang menulis surat kepada
Abu Abdillah (Imam Ahmad) Rahimahuttah. Dalam suratnya, orang tersebut
meminta Imam Ahmad menulis buku tentang penolakannya terhadap para pelaku bid’ah,
dan hadir di forum orang-orang filsafat kemudian mendebat mereka dan memberikan
hujjah-hujjahnya kepada mereka. Lalu Imam Ahmad menulis surat kepada orang
tersebut,
"Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga Allah memberi
balasan yang baik kepadamu dan menjauhkan darimu apa saja yang tidak
mengenakkan dan membahayakan! Sesungguhnya apa yang kita dengar, dan yang kita
ketahui dari para ulama bahwa mereka tidak suka banyak bicara dan duduk dengan
orang-orang sesat. Sesungguhnya segala persoalan itu harus diserahkan kepada
Kitabullah atau Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan
bukan duduk dengan orang-orang ahli bid'ah dan sesat, agar engkau bisa
mengcounter mereka, karena mereka membuat kerancuan kepadamu. Jadi keselamatan Insya
Allah ialah dengan meninggalkan majlis-majlis mereka dan tidak larut dalam
bid'ah dan kesesatan mereka. Hendaklah setiap orang bertakwa kepada Allah, dan
mengerjakan sesuatu yang bermanfaat baginya kelak, yaitu amal shalih yang ia
persembahkan untuk dirinya sendiri. Jangan la termasuk orang pembuat bid’ah.
Was
Salaamu alaika."
Saya
katakan, bahwa banyak sekail di antara ucapan-ucapan para Imam-imam salaf yang
mirip dengan ucapan orang jujur kedua, ulama Rabbanl, Imam Ahlus
Sunnah, dan pembela Islam pada hari-hari ujian, Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani.
Ucapan-ucapan di atas lengkap dengan sanadnya dirangkum Syaikh, Imam, Al-Allamah
Al-Hummam Abu Abdullah Ubaidilah bin Muhammad bin Baththah Al Ukbari dalam
bukunya yang bermutu yang berjudul At-lbanatu 'an Syariati Al-Firqati An-naajiyati
wa Mu-jaanabati At-Firaaqi At-Madzmumati jilid II hal. 429-483. Bacalah
buku tersebut, karena ia bermutu. Sebagai contoh, cukuplah bagi Anda apa yang
ditulis Al-Hummam Abu Abdullah Ubaidillah pada buku-nya jilid II hal. 429
seperti berikut, " Aku telah menjelaskan kepadamu wahai saudara-ku -semoga
Allah menjagaku dan menjagamu dari terkena fitnah, dan melindungiku dan melindungimu
dari cobaan- bahwa yang mendatangkan kematian ke dalam hati, dan memunculkan
keragu-raguan ke dalam hati setelah sebelumnya yakin ialah studi, dan banyak
bertanya tentang hal-hal yang tidak terbebas dari fitnah. Sesungguhnya yang
membuat hati sakit setelah sebelumnya sehat dan mencabut pahala sehat
daripadanya tidak lain adalah berteman dengan orang yang menipu dan berteman
dengannya menjerumuskan orang ke dalam neraka pada Hari Kiamat.
Adapun
studi dan banyak bertanya, maka telah saya jelaskan. Jika engkau mendengarkan
keteranganku tersebut dengan serius dengan petunjuk Allah keterangan tersebut
bermanfaat bagimu. Engkau mendapatkan kepuasan di dalamnya dan merasa cukup
dengannya. Adapun pergaulan, maka akan saya bacakan kepadamu. Jika engkau berpegang
teguh kepadanya, maka bermanfaat bagimu. jika engkau ingin bergaul dengan
Allah, maka semoga Allah memberi hidayah kepadamu."
Setelah
Itu, Syaikh Al-Humam Abu Abdullah mengetengahkan ayat-ayat, hadits-hadits, dan
atsar-atsar. la mengemukakannya dengan kata-kata yang mengisyaratkan
kecerdasannya, dan larangan menjauhi majlis-majlis pelaku bidah dan pengekor
hawa nafsu, serta bahwa orang-orang yang melakukan itu semua berada dalam tepi
fitnah, kendati mereka mengklaim tidak sama dengan mereka. Kita berlindung diri
kepada Allah dan su'ul khatimah. Contohnya Ialah ucapan Syalkh Al-Humam
Abu Abdullah pada bukunya Jlld II hal. 470 seperti berikut,
"Demi
Allah, wahai kaum Muslimin, janganlah dugaan baik salah seorang dari kalian
terhadap dirinya, dan pengetahuannya akan kebenaran madzhabnya membuatnya
mempertaruhkan agamanya dengan duduk bersama sebagian pengekor hawa nafsu
dengan berkata, 'Aku masuk kepadanya dengan maksud mendebatnya atau
mengeluarkannya dari madzhabnya.' Karena sesungguhnya mereka lebih besar fitnahnya
daripada fitnah Dajjal, ucapan mereka lebih lengket daripada kaos kaki dengan
kaki, dan mereka lebih membakar hati daripada kobaran api yang menyala-nyala. Sungguh,
aku pernah melihat sekelompok orang mengecam mereka dan duduk bersama mereka
dalam rangka mengcounter pemikiran mereka. Mereka merahasiakan makarnya, dan
menghaluskan kekafirannya hingga akhirnya
kekafiran
mereka pindah kepada sekelompok orang tersebut." Saya katakan, bahwa Syaikh
Al-Humam Abu Abdullah benar ucapannya, karena hal tersebut kita lihat dengan
mata kepala kita. Banyak sekali muncul aliran yang mengklaim meniru manhaj
generasi salaf, padahal mereka tidak meniru manhaj generasi salaf, namun karena
alasan alas an tertentu yang sengaja
dirahasiakan. Mereka bergaul dengan pengekor hawa nafsu dengan slogan Ingin
mendebat mereka, dan membongkar kedok mereka. Sayang-nya, mereka tidak menoleh
kepada pendapat-pendapat generasi salaf yang ahli tentang para pengekor hawa
nafsu tersebut, dan telah menguji madzhab-madzhab mereka yang salah, serta
memperingatkan bahaya fitnah yang penuh petaka ini. Al-Humam Abu Abdullah
berkata di bukunya Jlld II, hal 482,
"Semoga
Allah merahmati para Imam sebelum kita dan guru-guru yang telah meninggalkan
kita. Sungguh mereka telah memberi nasihat kepada kita. Semoga Allah
mengunpulkan kita dan mereka bersama para Nabi, orang orang yang jujur, para
syuhada', dan orang-orang shalih, karena mereka adalah sebaik-baik teman.
Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk imam-imam yang menyesatkan, dan
salah seorang dari ummat yang menentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam, memerangi beliau, mencela Sunnahnya, mencaci maki
sahabat-sahabatnya, dan mengajak manusia kepada penipuan dan kesesatan."
Saya
katakan, "Semoga Allah merahmati para imam generasi salafush shalih yang
lebih dahulu beriman dan berilmu daripada kita. Sungguh mereka telah menasihati
kita dan mereka benar dalam nasihatnya, karena pemandu itu tidak akan
membohongi pengikut-pengikutnya. Permasalahan Ini tidak akan terjadi seperti
yang kita lihat sekarang seandainya manusia mencontoh generasi salaf. Namun
mereka bicara banyak sebelum mereka diisi ilmu, dan memaksa tampil sebelum
matang. Mereka memaksa sampai pada tujuan tertentu padahal mereka belum layak
sampai kepadanya. Mereka tidur dari ilmu dan tidak bangun-bangun. Mereka
mengendali kendaraan kebatilan untuk mengejar keburukan, dan membangun rumah di
mata air ilmu. Dengan cara cara seperti itu, mereka ingin dihormati. Ya Allah,
kami adukan kepada-Mu bukti yang ada di dalam ilmu ilmu syar’i-Mu ini.
Al-Allamah Abu Qasim Al-Lalakal berkata dalam bukunya yang berjudul Syarhu Ushull
i'tiqaadl Ahli As-Sunnati wa Al-Jamaati Jilid I hal 17-20,
"Generasi
demi generasi telah berlalu hingga zaman memberikan pukulan pukulannya dan
menampakkan peristiwa-peristiwa yang dimilikinya. Muculah kaum yang mengklaim
bahwa mereka merupakan generasi pengganti generasi sebelumnya, dan bahwa mereka
lebih banyak karyanya daripada generasi sebelumnya. Mereka Juga mengakui lebih
hebat dalam mengungkap fakta-fakta ilmiah, lebih tepat penjelasannya, lebih
baik hasil penyelidikannya, bahwa generasi-generasi terdahulu tidak mengadakan penelitian
karena ketidakmampuan mereka, mereka menolak berdialog dengan para pengekor
hawa nafsu karena ilmunya sedikit, dan bahwa membela madzhab Itu dengan
mendebat orang-orang sesat tersebut. Itulah yang terjadi hingga mereka merubah
kebaikan menjadi keburukan, usang
menjadi
baru, dan berpaling dari ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
dibawa dari Allah, Allah mewajibkan manusia berdakwah kepadanya, dan Allah
menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka dengan memberi hidayah kepada
mereka. Allah befirman.
'Dan
Ingatlah nikmat Allah pada kalian, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada
kalian yaitu Al Kitab (Al Qufan) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi
pengajaran kepada kalian dengan apa yang diturunkan-Nya itu. ' (Al-Baqarah:
231).
Pada
ayat di atas, Allah Azza wa Jalla mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan Kitab-Nya
dan menghimbau mereka mengikuti Sunnah Rasul-Nya. Allah Ta 'ala beflrman
pada ayat yang lain,
"Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Hikmah dan pelajaran yang baik. "(An-Nahl:
125).