Selasa, 15 Juli 2014


Wasiat Ulama Kumail bin Zaiyad An-Nakha'i1 berkata, bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu menggandeng tanganku kemudian mengajakku keluar ke arah dataran tinggi. Ketika kami telah berada di tempat yang tinggi,Ali bin Abu Thalib duduk kemudian  menarik nafas panjang, la berkata, "Hal Kumal bwi Zayyad. sesungguhnya hati adalah wadah, dan hati yang paling baik ialah hati yang paling sadar. Jagalah apa yang saya katakan kepadamu. Manusia itu terbagi ke dalam tiga kelompok; ulama Rabbani7, penuntut ilmu di atas Jalan keselamatan, dan orang-orang Jelata pengikut semua penyeru. Kelompok terakhir miring bersama dengan hembusan angin, tidak bersinar dengan cahaya Imu dan tidak bersandar pada tiang yang kokoh. Ilmu lebih bait daripada harta. Ilmu menjagamu, sedang engkau menjaga harta. Ilmu berkembang biak dengan diamalkan, sedang harta berkurang dengan infak, dan mencintai Ilmu adalah agama. Ilmu membuat ulama ditaati sepanjang hidupnya dan dikenang sepeninggalnya, sedang kebalkan karena harta Itu hilang bersamaan dengan hilangnya harta. Para penyimpan harta telah mati, padahal sebenarnya mereka masih hidup, sedang para ulama abadi sepanjang zaman. Diri mereka telah sirna, namun suri tauladan mereka tetap melekat di dalam hati.
Ha..haa. Sesungguhnya di sini -sambil menunjuk ke dadanya  ada ilmu, jika aku menerimanya dengan benar.
Namun, sayang sekali, aku menerimanya dengan cepat memahaminya namun tidak amanah di dalamnya, mempergunakan alat agama untuk membeli dunia, meminta diperlihatkan hujjah-hujjah Allah terhadap Kttab-Nya, nikmat- nikmat- Nya terhadap hamba-hamba-Nya, atau diberikan kepada orang-orang yang benar yang tidak mempunyai hujjah nyata di dalamnya. Sifat ragu-ragu membekas dalam hati sejak awal syubhat yang datang kepadanya, la tidak termasuk kelompok ini dan kelompok itu. la tidak mengetahui di mana kebenaran berada? Jika ia berkata, ia salah. Jka ia salah, ia tidak mengetahui kesalahannya, la hobi terhadap hal-hal yang hakikatnya tidak la ketahui, la menjadi fitnah bagi orang yang terkena
fitnahnya. Sesungguhnya puncak kebalkan adalah orang yang dikenalkan Allah kepada agama-Nya, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia tidak mengenal agamanya, la tenggelam dalam kenikmatan, gampang disetir syahwat, tergoda mencari harta dan menumpuknya, serta bukan termasuk dai-dai agama. Sesuatu yang paling mirip dengan mereka yaitu hewan ternak. Begitulah, ilmu mati dengan kematian orang-orang yang mengembannya.'
Ya Allah, betul sekail bahwa dunia tidak pernah sepi dari orang yang membela Allah dengan hujjah-hujjah-Nya, agar hujjah-hujjah Allah dan keteranganketerangan- Nya tidak terkalahkan. Mereka jumlahnya tidak seberapa banyak, namun mereka orang-orang yang paling berat timbangannya di sisi Allah. Dengan mereka, Allah membela hujjah-hujjah-Nya hingga mereka menunaikannya kepada orang-orang yang semisal dengan mereka, dan menanamkannya ke dalam hati orang-orang yang seperti mereka. Dengan mereka, ilmu menghadapi segala persoalan kemudian mereka menganggap enteng apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang hidup mewah dan tidak takut terhadap apa saja yang ditakutkan orang-orang bodoh. Mereka berada di dunia dengan badan mereka, sedang ruh mereka berada di tempat yang tinggi. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan dai-dai-Nya kepada agama-Nya.
Ha..Haa. Aku ingin rindu Ingin melihat mereka. Aku meminta ampunan kepada Allah untukku dan untuk-mu. J*a engkau mau, berdrilahl" (Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Hilyatu At-Avtiya' jilid I hal. 79-80).
2.  WASIAT SUFYAN ATS-TSAURI KEPADA ABBAD BIN ABBAD AL-KHAWWASH AL-ARSUFI
Sufyan Ats-Tsauri Rahimahutlah menulis surat kepada Abbad bin Abbad Al-Khawwash. Dalam surat-nya, Sufyan Ats-Tsauri berkata.
"Amma ba’du’.
Ketahulah, bahwa sekarang ini engkau berada di zaman di mana sebelumnya para sahabat Rasulullah Shallaltahu Ataihi wa Sallam meminta perlindungan dari berada pada zaman tersebut. Mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki, dan mempunyai keberanian yang tidak kita mtlkl. Maka bagaimana jika kita berada pada zaman tersebut, sementara kita hanya bermodalkan ilmu yang pas-pasan, sedikit kesabaran, sedikit pendukung dalam kebaikan manusia sedang rusak berat, dan dunia sedang keruh? Hendaklah engkau berpegang teguh kepada ilmu, dan merahasiakan diri, karena sekarang zamannya merahasiakan diri. Hendaklah engkau melakukan uzlah (isolasi diri), dan tidak banyak bergaul dengan manusia. Sebelum Ini, jika manusia bertemu, maka sebagian dari mereka mendapatkan manfaat dari sebagian yang Lain. Sedang zaman kita sekarang, itu semua tidak ada lagi, dan menurut pendapatku jalan keselamatan ialah dengan tidak bergaul dengan mereka. Engkau Jangan mendekat kepada para penguasa dan menjalin hubungan dengan mereka dalam urusan apa pun. Jangan tertipu, kemudian dikatakan kepadamu, "Belalah! Lindungi orang yang teraniaya dan kembalikan barang yang diambil dengan tidak hakl" Karena itu semua adalah tipuan iblis yang dijadikan sebagal tangga oleh para ulama yang bejat.
Dulu pernah dikatakan, Takutlah fitnah ahli Ibadah yang bodoh, dan orang berilmu yang berdosa, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi siapa saja yang terkena fitnah. Jika engkau mendapatkan permasalahan dan fatwa, maka manfaatkan baik baik, dan jangan bersaing dengan manusia di dalamnya. Janganlah engkau menjadi seperti orang yang Ingin ucapannya diamalkan, ucapannya disebarluaskan, dan ucapannya didengar. Jika Itu semua tidak dilakukan, maka membekas dalam dirinya."
Jangan berambisi kepada jabatan, karena jika seseorang lebih mencintai jabatan daripada emas dan perak, karena jabatan tersebut adalah pintu yang tidak Jelas yang tidak bisa diketahui kecuali oleh para ulama. Periksalah dirimu dan beramallah sesuai dengan niatnya. Ketahuilah, bahwa telah mendekat kepada manusia sesuatu di mana seseorang ingin mati karenanya. Was Salam (Dwiwayatkan Abu Nu'aim).
3.  WASIAT ABBAD BIN ABBAD AL-KHAWWASH KEPADA
AHLU AS-SUNNAH WAL-JAMA'AH
Abbad bin Abbad Al-Khawwash Asy-Syami Abu Utbah berkata,
"Amma ba'du.
Berpikirlah, karena akal adalah nikmat yang bisa berubah menjadi penyesalan. Karena tidak tertutup kemungkinan orang yang mempunyai akal itu menyibukkan hatinya dengan memperdalam sesuatu yang madharatnya lebih banyak daripada manfaatnya, hingga la menjadi pelupa.
Al-Qur"an adalah panutan Rasulullah SAW,, dan beliau adalah panutan sahabat sahabatnya, serta para sahabatnya adalah panutan bagi generasi-generasi sesudah mereka. Mereka orang-orang yang terkenal dan berasal dari negeri yang berbeda. Mereka sepakat menolak orang-orang yang menuruti hawa nafsu, kendati di sisi lain terjadi perbedaan pendapat dikalangan mereka, dan kendati orang-orang yang menuruti hawa nafsunya berlarut-larut mengandalkan pendapatnya dalam hal yang beragam dan menyimpang dari Jalan yang lurus. Karena ulah mereka, orang-orang yang paling bingung di antara mereka tersesat di tempat rawan bahaya, kemudia mereka memikirkan hal-hal tersebut dengan sewenang-wenang. Setiap kali syetan menciptakan bidah untuk mereka dalam kesesatan mereka, mereka pindah dari satu bitlah kepada bld'ah yang lain, karena mereka tidak mau mencari jejak generasi salaf, dan tidak meniru kaum Muhajirin.
Disebutkan dari Umar bin Khaththab Radhtyattahu Anhu yang berkata kepada Zayyad, Tahukah engkau apa saja yang menghancurkan Islam? (Yang menghancurkan Islam) ialah kesalahan ulama, mendebat orang munafik dengan Al Qur"an dan para pemimpin yang sesat.'
Bertakwalah kepada Allah dan terhadap ghibah, adu domba, dan si dua mulut dan dua wajah (orang munafik) pada para qari kalian, dan orang-orang masjid kalian  Disebutkan, bahwa barangsiapa bersikap dua wajah (munafik) di dunia, la pun bersikap dua wajah di neraka.
Allah. Allah. Lindungilah kesucian orang-orang yang tidak hadir di sini dan jagalah lidahmu dari mereka kecuali perkataan yang baik. Berilah nasihat Allah pada ummat kalian sebab kalian adalah pengemban Al-Kitab (Al-Quran) dan Sunnah. Sesungguhnya Al-Kitab (Al-Quran) Itu tidak berbicara hingga ia diucapkan (dibaca) dan sesungguhnya Sunnah itu tidak bisa beramal hingga ia diamalkan.
Kapan orang bodoh bisa belajar Jika orang berilmu memilih diam, la tidak melarang kemungkaran yang terlihat, dan tidak menyuruh pengerjaan kebaikan yang tidak diamalkan?
Sungguh Allah telah membuat perjanjian dengan Ahli Kitab agar mereka menjelaskan Al-Kitab kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Bertakwalah kepada Allah, karena sekarang kalian sedang berada pada zaman dimana sifat wara' semakin menipis, sifat khusyu' semakin berkurang, dan yang membawa Ilmu itu Justru orang-orang yang merusaknya. Mereka lebih senang dikenal sebagal orang-orang yang mengemban Ilmu dan tidak suka dikenal sebagai oang-orang yang menyia-nyiakannya. Mereka berbicara Imu berdasarkan hawa nafsu ketika mereka memasukkan kesalahan di dalam Ilmu tersebut. Mereka merubah Al-Kittab (Al-Qur"an), meninggalkan kebenaran, dan mengamalkan kebatilan. Dosa-dosa mereka tidak akan diampuni dan kelalaian mereka tidak akan diakui.
Bagaimana orang yang ingin mendapatkan petunjuk bisa mendapatkan petunjuk, jika dalilnya saja membingungkan?
Orang yang mengamalkan kebenaran itu senantiasa berkata, kendati ia diam. Disebutkan, bahwa Allah Ta 'ala befirman,
'Sesungguhnya Aku tidak menerima semua ucapan orang bijak, namun Aku melihat kepada keinginannya dan hawa nafsunya. Jika keinginannya dan hawa nafsunya untuk-Ku, Aku menjadikan diamnya sebagai pujian dan ketenangan, kendati ia tidak berbicara.'
Allah Taata ber-firman,
'Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.' (Al-Jumu'ah: 5).
Allah Ta'ala befirman,
'Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu." (Al-Baqarah: 63).
Maksud ayat di atas, amalkan apa saja yang ada di dalamnya! Terhadap Sunnah, kalian Jangan hanya berkata tanpa mengamalkannya, karena mengakui Sunnah tanpa mengamalkannya adalah perkataan bohong dan menyia-nyiakan ilmu. Kaitan Jangan mencela bid'ah dengan maksud mempercantik diri dengan aibnya, karena kerusakan ahli bidah Itu tidak menambah kebalkan kalian. Kalian jangan pula mencela bidah tersebut karena ingin mendzalimi pelaku bidah, karena kedzaliman adalah termasuk kerusakan jiwa kalian
Seorang dokter tidak etis mengobati pasien dengan obat yang membuatnya sakit, karena jika pasien tersebut sakit, dokter lebih sibuk memperhatikan penyakitnya daripada mengobatinya. Namun seyogyanya dokter tersebut mencari kesehatan untuk dirinya, agar ia mampu mengobati pasiennya. Hendaklah sesuatu yang kalian larang dari saudara-saudara kalian itu berangkat dari penglihatan kalian terhadap diri kalian, nasihat kalian kepada Rabb kalian, dan rasa iba kalian kepada saudara-saudara kalian. Selain Itu, hendaklah kalian lebih sibuk memperhatikan aib kalian daripada memperhatikan aib orang lain, hendaklah sebagian dari kalian memberi nasihat kepada sebagian lain, dan memuliakan orang yang memberi nasihat kepada kalian dan menertnanya dari kalian. Umar bin Khaththab R.A pernah berkata,
"Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibku kepadaku."
Curigailah ucapan kalian dan ucapan orang-orang zaman kalianl Periksalah sebelum bicaral Belajarlah kalian sebelum mengajari Karena akan datang suatu zaman dimana kebenaran dan kebatilan terlihat sama-samar didalamnya, kebaikan di dalamnya menjadi kemungkaran, dan kemungkaran di dalamnya menjadi kebaikan. Di antara kalian ada orang yang bertaqarub (mendekat) kepada Allah dengan sesuatu yang malah menjauhkannya dari Allah, dan di antara kalian ada orang yang ingin meraih cinta-Nya dengan sesuatu yang malah membuatnya dlbenci Allah. Allah Taata befirman.
'Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? (Fathir: 8).
Hendaklah kalian bersikap menunggu dalam masalah-masalah syubhat, hingga kebenaran terlihat jelas dengan bukti nyata, karena orang yang masuk ke dalam sesuatu yang tidak diketahuinya itu berdosa. Barangsiapa melihat kepada Allah, Allah pun melihat kepadanya. Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Al-Quran, berimamlah kepadanya, menjadi pemimpwi dengannya, dan carilah jejak orang-orang salaf di dalamnya.
Jika para rahib dan pendeta tidak melindungi hilangnya kedudukan mereka, dan rusaknya status mereka dengan melaksanakan Al-Kitab dan menjelaskannya kepada manusia, mereka tidak akan merubah Al-Kitab
tersebut dan tidak menyembunyikannya. Namun, mereka menentang Al-Kitab dengan amal perbuatan mereka, dan menipu kaumnya dengan amal perbuatan mereka karena takut kedudukan mereka hilang, dan kerusakan mereka terlihat oleh manusia. Untuk Itu, mereka merubah Al-Kitab dengan penafsiran dan ayat-ayat yang tidak mampu mereka rubah mereka menyembunyikannya. Mereka diam terhadap perbuatan diri mereka untuk menjaga eksistensi kedudukan mereka dan diam terhadap amal perbuatan kaumnya untuk bermain mata dengan mereka. Sungguh Allah telah mengambil perjanjian dari orang-orang Ahli Kitab agar mereka menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Tragisnya, mereka berpaling daripadanya, dan menjadi teman bagi mereka di dalamnya." (Diriwayatkan Ad-Da-rimi dan Abu Nu'aim).
4.  WASIAT UTBAH BIN GHAZWAN
Khalld bin Umar Al-Adawl berkata, bahwa Utbah bin Ghazwan pernah berkhutbah kepada kami. la mulai khutbahnya dengan memuji Allah, dan menyanjung-Nya. Setelah itu, ia berkata,
"Amma ba'du.
Sesungguhnya dunia telah mengumumkan diri akan segera pergi. Dia akan pergi dengan cepat, dan tidak ada yang tersisa di dalamnya kecuali sisa seperti sisa air minuman yang diminum seseorang. Setelah Itu, kalian pindah ke negeri yang abadi. Oleh karena Itu, pindahlah kalian dengan amal perbuatan kalian yang paling baik, karena telah disebutkan kepada kami, bahwa batu dilemparkan dari atas tepi Jahannam kemudian batu tersebut jatuh menggelinding di dalamnya selama tujuh puluh tahun, namun belum sampai di dasarnya. Demi Allah, neraka Jahannam tersebut pasti penuh. Apakah kalian heran?
Sungguh juga telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara daun pintu disurga adalah seperti perjalanan selama empat puluh tahun, dan pasti daun pintu tersebut didatangi pada suatu hati, sedang la dalam keadaan penuh sesak. Sungguh, aku adalah orang ketujuh bersama Rasulullah SAW dan kami tidak mempunyai makanan selain daun-daun pohon, hingga mulut kami terluka. Kemudian aku mengambl kain burdah, lalu menyobeknya menjadi dua; satu untuk aku pakai, dan satunya untuk Sa'ad bin Malik". Dan sekarang, setiap dari kami menjadi salah seorang gubernur di salah satu kota. Sesungguhnya aku berlindung diri kepada Allah dari menjadi besar dalam diriku, sedang di sisi Allah bernilai kecil. Sesungguhnya kenabian Itu telah terputus hingga yang tersisa adalah kerajaan, kalian akan mengetahui perbuatan penguasa sepeninggal kami kelak (Diriwayatkan Muslim).
5.  WASIAT SUFYAN ATS-TSAURI
Sufyan Ats-Tsauri berkata kepada Ali bin Al-Hasan dalam nasihatnya,
"Saudaraku, hendaklah engkau makan dari penghasilan yang baik dan apa yang dihasilkan tanganmu. Jangan memakan dan memakai kotoran manusia (zakat), karena perumpamaan orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti ruang atas yang tidak mempunyai ruang bawahnya, la selalu takut jatuh ke bawah dan ruang atasnya rusak. Orang yang memakan kotoran manusia (zakat) Itu selalu berbicara dengan hawa nafsu dan merendah kepada manusia karena takut mereka menghindar daripadanya.
Saudaraku, jika Anda memakan sesuatu dari manusia, maka Anda memotong lidah Anda, menghormati sebagian manusia, dan menghina sebagian yang lain. Ini belum termasuk apa yang menimpa Anda pada Hari Kiamat kelak. Sesungguhnya yang diberikan kepadamu adalah kotorannya dan yang dimaksud dengan kotoran ini bahwa orang tersebut mencuci amal perbuatannya dari dosa-dosa. Jika Anda memakan sesuatu dari manusia; jika Anda diajak kepada kemungkaran. Anda pasti menurutinya, karena orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti orang yang bersekutu dengan orang lain dalam satu kepentingan dan ia harus berbagi hasil dengannya.
Saudaraku, lapar dan sedikit Ibadah Itu lebih baik daripada Anda kenyang dengan kotoran manusia (zakat) dan banyak ibadah. Aku mendapat khabar, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘'Jika salah seorang dari kalian mengambil tali, ke-mudian mengambil kayu bakar hingga membelakangi (memenuhi) punggungnya. Itu lebti baik baginya daripada la berdiri di depan saudaranya; la mengemis kepadanya, dan bertiarap kepadanya.' Aku juga mendapat khabar, bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata,
'Barangsiapa di antara kalian kerja, kami memujinya. Dan barangsiapa di antara kalian tidak kerja, kami mencurigainya.'
Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu juga berkata,
'Hai para qari', angkatlah kepala kalian, dan kalian jangan menambah kekhusyukan melebihi kekhusyukan yang ada di dalam hati. Berlomba lombalah kalian dalam kebaikan, dan Jangan menjadi tanggungan orang lain, karena jalan ini telah terlihat dengan jelas'
Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata.
'Sesungguhnya orang yang makan dari tangan manusia adalah seperti orang
yang menanam pohon di tanah milik orang lain.'
Jadi bertakwalah kepada Allah, karena seseorang tidak mendapatkan sesuatu dari manusia melainkan ia menjadi orang hina dan kerdil di mata manusia, padahal kaum Mukminin itu adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.
Anda jangan sekali-kali mencari uang dari pekerjaan kotor kemudian Anda menginfakkanya dalam ketaatan kepada Allah, karena meninggalkan pekerjaan kotor adalah kewajiban yang diwajibkan Allah, dan sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.
Tidakkah Anda pernah melihat orang yang pakaiannya terkena air kencing, kemudian ia ingin membersihkannya dan mencucinya dengan air kencing yang lain? Tidakkah Anda lihat ia membersihkannya dengan air kencing yang lain?
Ya, sesungguhnya kotoran itu tidak bisa dibersihkan kecuali dengan sesuatu yang bersih. Demikian pula kesalahan, la tidak bisa dihapus kecuali dengan kebaikan. Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali hal-hal yang baik baik, serta sesungguhnya hal-hal yang haram itu tidak diterima dalam amal perbuatan apa pun. Ataukah Anda pernah melihat seseorang melakukan dosa kemudian ia menghapusnya dengan dosa yang lain? (Diriwayatkan Abu Nu'alm).
6.  SURAT UMAR BIN KHATHTHAB TENTANG KEHAKIMAN
KEPADA ABU MUSA AL-ASTARI
Idris bin Abu Abdullah bin Idris berkata, "Aku pernah mengunjungi Sa'id bin Abu Burdah guna menanyakan surat-surat Umar bin Khaththab Radhlyallahu Anhu yang dikirimkan kepada Abu Musa Al-Asya’ari. Sebelumnya Abu Musa Al-Asya’ari telah berwasiat kepada Abu Burdah. Kemudian Abu Burdah mengeluarkan surat Umar bin Khaththab Radhlyalliahu Anhu  kepadaku, dan di dalamnya ku lihat tulisan berikut, 'Amma ba'du. Sesungguhnya kehakiman adalah kewajiban yang pasti, dan Sunnah yang harus diikuti? Pahamilah, jika suatu perkara diajukan kepadamu Karena perkataan yang benar tidak bermanfaat jika tidak dilaksanakan. Perlakukan sama semua manusia dalam pandangan matamu, keadilanmu, dan kursimu Agar orang yang berkedudukan tinggi tidak bermaksud jahat kepadamu dan orang lemah tidak patah semangat untuk mendapatkan keadilan darimu.
Pahamilah dan pahamilah apa saja yang tidak jelas dalam dadamu, selagi Al-Quran tidak menurunkan ayat tentang hal tersebut, dan tidak disebutkan didalam Sunnah.
Ketahuilah semua perumpamaan dan timbanglah sesuatu dengan sesuatu yang sama dengannya! Perhatikan mana di antara perumpamaan tersebut yang Lebih dekat kepada Allah dan paling mendekati kebenaran, kemudian ikuti dia dan berpegang teguhlah kepadanya. Keputusan yang telah Anda berikan kemarin jangan menghalangimu untuk mengkaji ulang dan mudah-mudahan Anda diberi petunjuk di dalamnya, karena mengkaji ulang kebenaran itu lebih baik daripada berlarut-larut dalam kebatilan.
Kaum Muslimin adalah pembela bagi sebagian di antara mereka, kecuali terhadap orang yang sudah diputuskan mendapatkan hudud (hukuman), atau orang yang terbiasa memberi kesaksian palsu, atau orang yang tidak jelas nasabnya. Tentukan batas waktu kepada orang yang meng-klaim hak yang tidak ada atau barang bukti yang adil karena barang bukti Itu merupakan hujjah yang sangat kuat, dan alasan yang paling akurat. Jika la mengdatangkan barang bukti pada masa tersebut, ia berhak mendapatkan haknya. Jika selama masa tersebut ia tidak mendatangkan barang bukti, Anda mengadukan keputusan barang bukti kepada penuduh dan sumpah kepada pihak yang tidak mengakui perbuatannya. Sesungguhnya Allah Tobaroka wa Ta 'ala mengetahui apa saja yang ada di dalam hati , dan menolak syubhat dari kalian. Anda jangan kalut merasa bosan dan menyakiti manusia dan menolak pihak yang beperkara di pengadilan di mana Allah telah menyediakan pahala di dalamnya dan memberikan simpanan yang baik di dalamnya. Barangsiapa niatnya baik, dan niatnya Ikhlas karena Allah, maka Allah melindunginya dari manusia. Jika perdamaian Itu boleh dilakukan antara kaum Muslimin, kecuali perdamaian yang menghalalkan sesuatu yang haram, dan mengharamkan sesuatu yang halal." Barangsiapa berhias untuk manusia, padahal Allah mengetahui itu bukan sifatnya, Allah menghinanya. Maka bagaimana komentar Anda terhadap pahala Allah di dunia dan akhirat ?.  Akhirnya, as-salamu "alaikum.
7.  WASIAT WAHB BIN MUNABBIH TENTANG AKHLAK MULIA
Wahb bin Munabbih berkata, "Jika Anda hendak melakukan ketaatan kepada Allah Azza Wajalla, maka seriuslah dalam nasihiatmu dan ilmumu karena Allah, karena amal perbuatan tidak diterima dari orang yang bukan pemberi nasihat. Sesungguhnya nasihat karena Allah Azza Wajalla itu tidak sempurna kecuali dengan taat kepada Allah, seperti halnya buah yang baik; aromanya enak, dan rasanya lezat. Itulah perumpamaan taat kepada Allah; aromanya ialah nasihat, dan rasanya ialah amal perbuatan. Kemudian hiasilah ketaatan kepada Allah dengan ilmu, sikap lemah lembut, dan fiqh.
Kemudian muliakan dirimu dari akhlak orang-orang bodoh dan hiasilah dengan akhlak para ulama! Biasakan dirimu mengerjakan amal perbuatan orang-orang lemah lembut dan jauhkan dari perbuatan orang-orang celaka. Biasakan dirimu dengan sejarah hidup para fuqaha' dan kosongkan dirimu dari jalan-jalan orang-orang bejat.
Jika Anda mempunyai kelebihan, bantulah orang yang levelnya di bawah Anda dengan kelebihan tersebut. Jika orang yang levelnya lebih rendah daripada level Anda mempunyai kelemahan, bantulah dia hingga la menjadi selevel dengan Anda. karena orang bijak itu mengumpulkan seluruh kelebihannya, kemudian memberikannya kepada orang yang levelnya di bawahnya. Setelah itu, la mengamati kekurangan orang-orang yang levelnya lebih rendah daripada level dirinya, kemudian ia meluruskannya hingga sama dengan level dirinya. Jika orang bijak tersebut seorang faqih (ahli fiqh), ia menanggung orang yang tidak mempunyai fiqh jika orang tersebut ia lihat ingin bergaul dengannya. Jika orang bijak tersebut mempunyai uang, ia memberikannya kepada orang yang tidak mempunyai uang.
Jika orang bijak tersebut seorang dai, la memintakan ampunan kepada Allah untuk orang yang berdosa Jika orang tersebut bisa diharapkan bertaubat.
Jika orang bijak tersebut orang baik-baik, la berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat terhadap dirinya dan mengharapkan pahala dari sikapnya tersebut. la tidak tergoda berbicara hingga ia bisa mengamalkan apa yang diucapkannya, la tidak ingin melakukan ketaatan kepada Allah jika ia tidak mampu melakukannya. Jika la mampu melakukan sedikit ketaatan kepada Allah, la memuji Allah, kemudian la meminta apa yang belum mampu la kerjakan. Jika la mengetahui sebagian dari hikmah (ilmu), la tidak merasa kenyang hingga la mempelajari ilmu yang belum la miliki. Jika ia ingat kesalahannya, la menutupnya dari manusia, dan meminta ampunan kepada Allah Yang Mampu memberi ampunan kepadanya. Kemudian ia tidak menggunakan ucapannya untuk berbohong, karena bohong dalam bicara adalah seperti hewan pemakan kayu; ia melihat luarnya bagus, namun ternyata dalamnya busuk. Orang yang senantiasa tertipu dengan pohon tersebut mengklaim bahwa pohon tersebut mampu menyangga apa yang ada di atasnya, hingga akhirnya pohon tersebut merusak apa saja yang ada di dalamnya dan binasalah orang yang tertipu dengannya.
Begitu pula bohong dalam pembicaraan. Pelakunya selalu tertipu dengannya dan mengklaim bahwa bohong tersebut membantu dirinya dalam memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan keinginannya. Hal tersebut terus terjadi pada dirinya hingga ketertipuan orang tersebut dilihat orang-orang yang berakal dan ulama melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mereka. Jika para ulama mengetahui persoalan orang tersebut, dan kedoknya terlihat oleh mereka, mereka mendustakan informasinya, membatalkan kesaksiannya, meragukan kejujurannya, melecehkan dirinya, tidak suka duduk dengannya, merahasiakan rahasia-rahasia mereka dari orang tersebut, menyembunyikan pembicaraan mereka, tidak memberikan amanah mereka kepada orang tersebut, merahasiakan persoalan mereka dari orang tersebut, bermuka masam kepada orang tersebut dalam masalah agama mereka dan masalah
kehidupan mereka, tidak menghadirkan sesuatu apa pun kepada orang tersebut, tidak mempercayai orang tersebut untuk menerima sedikit pun dari rahasia-rahasia mereka, dan tidak memutuskan perkara yang dihadapi orang tersebut." (Dwiwayatkan Abu Nu'aim)
8.  WASIAT AUN BIN ABDULLAH AL- UDZALI KEPADA ANAKNYA TENTANG KOREKSI DIRI
Aun bin Abdullah berkata kepada anaknya, ketika ia menasehatinya. "Anakku, jadilah engkau termasuk orang-orang yang menjauh dari orang yang dijauhi keyakinan dan kesucian, dan termasuk orang-orang yang mendekat kepada orang yang didekati sifat lemah lembut, dan penyayang, ia menjauh dari orang yang dijauhi keyakinan dan kesucian bukan karena sombong dan takabur, la mendekat kepada orang yang didekati sifat lemah lembut dan penyayang bukan karena Ingin menipunya, la mencontoh generasi sebelumnya, dan menjadi panutan (Imam) bagi generasi sesudahnya. Ilmunya tidak absen dari dirinya, dan kebodohannya tidak hinggap kepadanya, la tidak bersikap terburu nafsu dalam hal-hal yang masih meragukan dan memaafkan hal-hal yang sudah jelas baginya. Kebaikan bisa diharapkan darinya, dan keburukan jauh darinya. Jika ia berkumpul dengan orang-orang yang lalai, ia ditulis sebagai orang-orang yang ingat kepada Allah, dan jika ia bersama dengan orang-orang yang ingat kepada Allah, la tidak dicatat sebagal orang orang yang lalai. la tidak termakan oleh pujian orang yang tidak kenal dengannya, dan tidak lupa mendata apa yang telah diketahuinya. Jika ia dianggap suci oleh manusia, ia takut akan apa yang mereka ucapkan, dan memintakan ampunan untuk mereka atas apa yang tidak mereka ketahui, la berkata, 'Aku lebih tahu tentang diriku daripada orang lain, dan Tuhanku lebih tahu tentang diriku daripada diriku sendiri.' la menganggap dirinya lamban dalam beramal, dan mengerjakan amal shalih dengan perasaan khawatir, la tidak henti-hentinya berdzikir. Pada sore hari. obsesinya ialah bersyukur, menghabiskan malam dengan waspada, dan berada di pagi hari dengan perasaan gembira, la waspada terhadap sifat lalai dan berbahagia dengan keberuntungan dan rahmat. Jika hawa nafsu mengajaknya ke dalam hal-hal yang tidak disukainya, la tidak mentaattiya di dalam hal-hal yang disukai Jiwanya. Keinginannya terletak pada hal-hal yang abadi, dan kezuhudannya terletak pada hal-hal yang fana. la mengkombinasikan ilmu dengan sikap santun, la diam agar selamat, la bicara untuk memberi pemahaman kepada orang lain. la mengisolir diri agar mendapatkan keberuntungan, dan berinteraksi agar bisa belajar dari orang lain. Terhadap kebaikan, la tidak diam dengan lalai, dan tidak mendengarnya dengan lalai, la tidak membeberkan kejujurannya kepada teman-temannya, tidak merahasiakan kesaksiannya terhadap para musuh, tidak mengerjakan suatu amalan dengan riya', dan tidak meninggalkan amal shalih karena perasaan malu. Majlis dzikir bersama orang-orang miskin lebih la sukai daripada majlis hiburan dengan orang-orang kaya.
Anakku, Janganlah engkau termasuk orang yang kagum meyakini hal-hal yang telah berlalu, dan lupa meyakini hal-hal yang masih bisa diharapkan dan diminta. Terhadap sesuatu yang telah berlalu, ia berkata, "Seandainya sesuatu tersebut telah ditakdirkan, pasti la terjadi. Terhadap sesuatu yang masih ada, ia berkata, Berusahalah hai manusia dengan cemas, dan tidak tenang. Ia tidak mempercayai rizki yang telah dijatahkan kepadanya. Jiwanya tidak mengalahkannya terhadap apa yang ia duga, dan ia tidak bisa mengalahkan jiwanya terhadap apa yang telah la yakini, la serta ragu terhadap dirinya. Di antara bentuk dugaanya, ia tidak dirahmati ketika akan meninggal dunia. Jika ia sakit, ia menyesal. Jika sehat, ia merasa aman. Jika ia miskin, ia sedih. Jika kaya, ia didera banyak cobaan. Jika menginginkan sesuatu, ia malas. Jika ia rajin, ia bersikap zuhud. ia menginginkan sesuatu tanpa mau lelah. Dan tidak mau lelah terhadap apa yang diinginkannya, la berkata, 'Saya tidak mau kerja kemudian lelah. Saya hanya mau duduk-duduk kemudian berkhayal. Ia menginginkan ampunan, namun ia mengerjakan kemaksiatan. Usia pertamanya adalah lalai, kemudian berubah menjadi kesulitan. Akhir usianya ialah malas, ia panjang angan-angan, kemudian mendapatkan banyak cobaan. Usianya panjang, namun ia tertipu, ia mengakui dosa sekaligus nikmat. Jika ia memberi sesuatu kepada orang lain, ia ingin orang tersebut berterima kasih kepadanya. Atau jika ia tidak memberi sesuatu kepada orang lain, ia berkata. Tidak ditakdirkan.' Sungguh la telah bersikap kurang ajar, dan egois, la berharap selamat, namun tidak bersikap hati-hati. ia mendambakan nikmatnya ditambah, namun tidak bersyukur, la berhak bersyukur, namun sesungguhnya ia sangat tidak layak dimaafkan, ia mengerjakan hal-hal yang tidak diperintahkan, dan menyia-nyiakan hal-hal yang sangat bernilai. Jika ia meminta, ia berharap mendapat banyak, ia berinfak hanya dengan sedikit harta. Hisabnya diperingan, kemudian ia diberi sebatas kebutuhannya dan tidak diberi sesuatu yang malah melenakannya. la tidak melihat sesuatu yang membuatnya kaya, melainkan kekayaan yang membuatnya bertindak sewenang-wenang, ia tidak mampu mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya dan mendambakan tambahan nikmat terhadap nikmat yang masih tersisa, la menunda dirinya mensyukuri nikmat yang dianugerahkan kepadanya, dan lupa bersyukur terhadap apa yang diberikan kepadanya. ia dilarang, namun tidak berhenti perbuatan dosa. ia memerintahkan sesuatu yang tidak diperintahkan, ia mencintai orang-orang shalih, namun la tidak mengerjakan amal perbuatan mereka, la membenci orang-orang jahat, padahal termasuk salah seorang dari mereka, la bersegera kepada dunia, padahal dunia itu fana, dan meninggalkan akhirat padahal akhirat itu abadi.
Jika ia sembuh dari penyakit, ia merasa sudah bertaubat. Jika la kembali diuji, ia berkata seperti orang-orang zuhud di dunia, dan beramal didalamnya seperti amalan orang-orang yang cinta akhirat. ia ingin mati sedang tidak berhenti dari kejahatannya dalam hidupnya. Jika ia tidak diberi dunia,  tidak terima. Jika ia diberi dunia, ia tidak kenyang kenyang juga. Jika syahwat terlihat, ia berkata, "Engkau cukup beramal saja.'
Kemudian ia terjerumus ke dalam syahwat tersebut. Jika amal perbuatan tampak olehnya, ia berkata, "Engkau cukup bersikap wara' saja.' Ketakutannya tidak bisa menghilangkan kemalasannya, dan ambisinya tidak bisa memotivasinya untuk beramal, la mengharapkan pahala tanpa amal perbuatan dan menunda taubat karena panjang angan-angan, la tidak berusaha mengerjakan tujuan penciptaannya. Keinginannya tertuju kepada rizki yang ditakdirkan untuknya, la takut kepada manusia, dan tidak takut kepada Allah, ia berlindung diri kepada Allah dari orang-orang yang berada di atas dirinya, dan tidak berlindung diri kepada Allah dari orang-orang yang berada di bawahnya, la takut mati. la merasa aman dari apa yang
ditakutinya, padahal apa yang telah ditakutinya tersebut telah ia yakini, dan tidak putus asa terhadap apa yang diharapkannya padahal apa yang diharapkannya tersebut telah la yakini, la mengharapkan manfaat ilmu yang tidak la amalkan, dan merasa aman dari madzarat kebodohan yang telah diyakininya. la melecehkan orang-orang status sosialnya lebih rendah dari status social dirinya, dan lupa kepada hak orang lain yang ada pada dirinya, la melihat kepada orang yang diberi rizki lebih banyak daripada dirinya, dan lupa kepada orang-orang yang status sosialnya di bawah dirinya, la takut kepada orang lain melebihi ketakutannya kepada dosa-dosanya, la berharap banyak dengan amal perbuatan yang sangat minimal, la pakar terhadap kekurangan orang lain, dan tidak pakar terhadap kekurangan dirinya. Jika la ingat keyakinan, ia berkata, 'Orang-orang sebelum kalian tidak seperti Ini.' Jika dikatakan kepadanya, 'Kenapa Anda tidak beramal seperti amalan mereka?' la menjawab, "Siapakah yang bisa seperti mereka? Jika bicara, la pandai, namun ia merasa kesulitan untuk beramal, la bersikap amanah, selagi ia sehat dan senang dan berkhianat jika ia marah dan sedang mendapat cobaan, ia bersikap santun agar dikenal sebagai orang yang amanah, padahal ia bersikap demikian itu untuk berkhianat, la belajar bersahabat dalam rangka untuk memusuhi, la bersegera kepada dosa-dosa, dan lamban dalam amal shalih. Dosa lebih ringan baginya daripada rambut, la merasa berat hati melakukan dzikir kepada Allah. Berfoya-foya bersama orang-orang kaya lebih ia sukai daripada dzikir bersama orang-orang miskin, la buru-buru tidur, dan menunda puasa, la tidak menggunakan waktu malamnya dengan qiyamullail, dan tidak puasa di siang harinya. Pada pagi hari, obsesinya ialah malam segera kemudian ia tidur dengan segera. Dan pada petang hari, obsesinya ialah bisa segera makan malam." AI-Hajjaj menambahkan dari Al-Mas"ud, "Jika ia shalat, la berpaling. Jika la rukuk, maka seperti unta menderum. Jika la sujud, la seperti ayam mematuk makanan di tanah. Jika la meminta, la  meminta dengan memaksa. Jika la diminta, la menunda-nunda. Jika la berbicara, ia bersumpah. Jika ia bersimpati, ia melanggar sumpahnya. Jika ia berjanji, ia tidak menetapinya. Jika ia dinasihati, ia memberengut. Jika ia dipuji, la senang bukan kepalang. Tuntutannya ialah keburukannya, dan peninggalannya adalah dosa. la tidak mempunyai kesibukan memperhatikan aib dirinya, dan tidak mempunyai kelebihan dalam kebaikan, la cenderung kepada hawa nafsunya, dan menginginkan hawa nafsunya mendapatkan keadilan dari orang lain.
Para pengkhianat adalah teman-teman dekatnya dan orang-orang yang Jujur adalah musuh-musuh utamanya. Jika la mengucapkan salam, salamnya tidak didengar. Jika ia mendengar salam, ia tidak menjawabnya, la melihat dengan seperti penglihatan orang yang dengki, dan berpaling seperti berpalingnya pendendam, la mentertawakan orang yang adil, dan makan seperti budak, la berani berkhianat, dan lepas tangan dari sifat amanah.
Barangsiapa mencintainya, la berdusta terhadapnya, dan barangsiapa membencinya, ia menerkamnya, la tertawa tanpa sebab, la berjalan dengan tidak berakhlak. Orang yang berdekatan dengannya tidak bisa selamat dari padanya, dan orang yang bergaul dengannya tidak bisa selamat dari padanya. Jika Anda berbicara dengannya, la membuat Anda bosan kepadanya. Jika ia berbicara dengan Anda, ia membuat Anda gundah gulana. Jika Anda sepakat dengannya, ia dengki kepada Anda. Jika Anda menentangnya, la marah kepada Anda. ia iri hati. Jika Anda diberi kelebihan, la pelit Jika mempunyai kelebihan, dan iri kepada orang yang lebih baik daripada dirinya, serta tidak mau beramal seperti amal perbuatannya, la tidak membalas orang yang telah berbuat baik kepadanya, dan sikapnya berlebih lebihan
terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya, la tidak diam untuk selamat, dan la bicara dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Mulutnya mengalahkan hatinya. Hatinya tidak mampu mengendalikan lidahnya, la belajar untuk berdebat, la studi untuk riya". la memperlihatkan kesombongannya, kemudian terlihatlah apa yang selama Ini disembunyikannya, dan tidak tersembunyikan apa yang ia perlihatkan, la
agresif terhadap sesuatu yang fana, dan menyerah kalah terhadap sesuatu yang abadi, la bersegera kepada dunia, dan tidak memperhatikan sifat takwa." (Diriwayatkan Abu Nuaim).
9.  WASIAT ABU DZAR TENTANG INGAT MATI
An-Nadhr bin Ismail berkata, bahwa aku mendengar Abu Dzar berkata, '’Adapun kematian, ia telah kalian kenal, dan kalian melihatnya di setiap siang, dan malam. Kematian terjadi pada orang mulia di keluarganya, terhormat di sanak familinya, dan ditaati kaumnya, la pergi menuju liang kering, dan batu-batu besar yang bisu. Keluarganya tidak mampu memberikan bantal kepadanya, karena bantalnya ketika Itu adalah amal perbuatannya. Kematian juga terjadi pada orang yang sedih dan terasing, ia dirundung banyak kesedihan selama hidup di dunia, dan bekerja lama sekali hingga badannya lelah karenanya, kemudian kematian datang kepadanya sebelum ia meraih keinginannya. Kematian datang kepadanya dengan tiba-tiba. Kematian Juga terjadi pada anak yang masih menyusu, orang sakit keras, dan orang yang tenggelam dalam kejahatan. Mereka semua mendapatkan jatah kematian. Tidakkah para ahli ibadah mengambil ibrah dari ucapan para penceramah? Bisa aku katakan, ‘'Mahasuci Allah Yang Maha Agung. Sungguh Dia menunda kematian kepada kalian hingga kalian berkesimpulan bahwa Allah lupa tidak mencabut nyawa kalian. Setelah itu, aku kembali memikirkan kelembutan Allah dan kekuasaan-Nya, lalu aku berkata lagi. Tidak, Justru Allah memberi kelonggaran kepada kita hingga akhir ajal kita, yaitu sampai hari di mana penglihatan menjadi buram, dan hati menjadi kering.' Allah Ta'ala befirman,
'Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.' (Ibrahim: 43).
Ya Tuhan, sungguh Engkau telah memberikan peringatan dan hujjah-Mu kepada makhluk-Mu.
Kemudian aku membaca ayat lain,
'Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu Itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzallm. Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia}
walaupun dalam waktu yang sedikit'. ' (Ibrahim: 44).
Kemudian Allah befirman,
'Hai orang yang dzalim, engkau hidup sampai ajal yang engkau minta, maka pergunakan ajal tersebut dengan baik sebelum la habis. Segera gunakan ajal tersebut sebelum la hilang. Ajal terakhir ialah melihat ajal ketika kematian datang. Ketika itulah, maaf tidak berguna lagi.'
Sesungguhnya manusia adalah target utama kematian. Barangslapa dibidik oleh kematian dengan anak panahnya, maka lemparan anak panah tersebut tidak meleset. Dan barangsiapa dikehendaki kematian, maka keinginan kematian tersebut tidak terjadi pada orang lain. Ketahuiah, sesungguhnya kebaikan terbesar ialah kebaikan akhirat yang abadi dan tidak hilang. Sesuatu yang abadi itu tidak sirna, dan sesuatu yang memanjang itu tidak terputus. Orang-orang mulia berada di dekat Allah Ta'ata. Mereka mendapatkan apa saja yang disukai jiwa, dan disenangi mata. Mereka saling mengunjungi dengan mengendarai onta . Mereka saling bertemu untuk bernostalgia tentang hati-hati mereka di dunia. Selamat untuk mereka. Sungguh mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena keinginan mereka tertuju kepada Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Utama." (Diriwayatkan Abu Nuaim).
10.            WASIAT HASAN BASRI KEPADA UMAR BIN ABDUL AZIZ
Hasan Basri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, dan dalam suratnya Hasan Basri berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan itu membuat pelakunya meninggalkannya. Apa yang telah hilang kendati sangat banyak tidak bisa dibandingkan dengan apa yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik daripada penyegeraan istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi. Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berkhianat, dan memperdaya. ia berhias dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat rindu para pelamarnya, hingga ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanya, semua hati rindu kepadanya, dan semua jiwanya tertarik kepadanya, la menjadi pembunuh bagi semua suami-suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat ketika ia diberi penjelasan tentang dunia. Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan Jiwa mereka kikir dengannya. ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, la tidak membiarkan yang lain. la mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia. Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan dunia, ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalannya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia. Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya, la pergi dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya, dan Jiwanya tidak bisa istirahat dari kelelahan, la keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.
Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, karena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia Itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena Itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian. Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.
Ketahulah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apalagi ditunggui. Waspadalah tertiadap dunia, karena mimpimu impinya dusta belaka, khayalan khayalannya batil, kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah
keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nkmat yang akan sirna, dan cobaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus segala-galanya. Sungguh, dunia Itu melelahkan seseorang, jika la mau berpikir, la berada dalam nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya, dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha Pencipta tidak menyampaikan berita tentang dunia, tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri
Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa jalla dan banyak sekail penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wajalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta 'ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih Dia benci daripada dunia seperti disampaikan kepadaku dan Dia tidak melihat kepada-nya sejak Dia menciptakannya karena amat benci kepadanya. Sungguh dunia dengan kunci-kunci nya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi Allah lebih ringan dari sayap lalat pernah diperlihatkan kepada Nabi kita, Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena beliau telah mengetahui bahwa jika Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkan nya. Dan jika Allah merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya. Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut. Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa yang direndahkan Pemiliknya.
Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dmia kepada beliau, namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagal pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya. Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah Ta'ala menjauhkan dunia dari orang-orang yang shalih dengan sukarela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya. Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengarnya menyangka bahwa ia dimuliakan Allah Ta 'ala dengan dunia tersebut, la lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa Alaihis Salam.
Adapun Rasulullah Shallallahu Alalhl wa Sallam, beliau mengikatkan batu di perutnya karena saking laparnya. Adapun Nabi Musa Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta 'ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparan nya. Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dari Nabi Musa Alaihis Salam, bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada beliau, "Hai Musa, Jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, 'Selamat datang simbol orang-orang shalih.' Jka engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, 'Ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.'
Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa kepada baginda, karena ia amat menakjubkan, la berkata, lauk-ku adalah lapar. Syiarku ialah takut. Pakaianku ialah wol. Hewan kendaraan ku ialah kedua kakiku. Lampuku dimalam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa. Dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku.'
Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam, karena la tidak kalah menakjubkan, la makan roti dari gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya. Jika malam telah tiba, la memakai baju dari tenunan kasar, dan tangannya ke lehernya, la semalaman menangis hingga pagi hari. la makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati itu semua, mereka membenci apa saja yang dlbenci Allah Ta'ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta'ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya. Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah-lelah, dan memahami ibrah, serta merenungi diri. Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tidak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.
Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti la menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk. Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata. Tidakkah kalian lihat bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?
Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya, mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau busuk yang ada di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang duduk di dekatnya. Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, ia sangat berkeinginan seandainya dulu la menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau orang selamat, la lebih senang seandainya di dunia dulu la menjadi orang yang menderita, atau rakyat biasa. Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina bagi orang yang memikirkannya?
Demi Allah, Jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia Ini melainkan la mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa la kejar dan merasakan kelelahan. Namun jika ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tersebut, ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta la akan dihisab karenanya. Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal Itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya,mkarena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.
Sesingguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari; hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada di dalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hati esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi
Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada  pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu. Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu, berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hati ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari harimu. itu hal yang mustahil, karena kesibukan itu sangat padat, kesedihan itu semakin bertambah, kelelahan Itu semakin besar, dan seseorang
membuang amal dengan inpian kosong. Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius, dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut. Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendisiskripsikan untukmu tentang dunia di antara dua Jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada di dalamnya. Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat, maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka. Adapun hari ini jka engkau memikirkannya adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan bait, la menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, la berputar di kedua matamu. Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, "Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku. Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hatilah-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika  engkau mau berpikir. Periksalah apa yang telah engkau saksikan jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang. jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada di tanganmu daripada engkau sendiri, padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah, jika dikatakan kepada mayat di kuburan. inilah dunia Itu dari awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu?" Pasti la memilih pilihan kedua. Bahkan, seandalnya la disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti la lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya. Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut. Periksalah dirimu hari ini ihatlah waktu Agungkanlah katai Hati-hatilah terhadap kerugian karena Hari Kiamat telah tiba Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.
Assalaamu 'Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh.
11. WASIAT-WASIAT UMAR BIN ABDUL AZIZ TENTANG ILTIZAM DENGAN SUNNAH
Syihab bin Khiasy berkata, bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada seseorang dan dalam suratnya Umar bin Abdul Aziz berkata,"Salam sejahtera untukmu. Ammaba'du.
Sesungguhnya aku mewasiatkanmu agar engkau bertakwa kepada Allah, adil dalam perintah-Nya, mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan meninggalkan semua bidah yang diciptakan para pembuat bidah sepeninggal beliau. Ketahuiah, bahwa tidak ada satu bid’ah pun, melainkan sebelumnya sudah ada petunjuk tentang bidah tersebut, dan di dalamnya ada ibrah. Hendaklah engkau konsekwen dengan Sunnah, karena dengan izin Allah Sunnah tersebut menjagamu, karena Sunnah tersebut ditetapkan oleh orang yang telah mengetahui bahwa di luar Sunnah tersebut adalah kesalahan, penyimpangan, dan kebodohan. Ridhalah terhadap dirimu sebagaimana salah satu kaum ridha terhadap diri mereka, karena mereka berdiri di atas ilmu, dan mereka menahan diri dengan mata yang tajam. Mereka sangat kuat dalam membongkar segala permasalahan, dan mereka lebih berhak terhadap keutamaan yang ada di dalamnya. Mereka adalah generasi Islam pertama. Jika kalian mempunyai petunjuk, sesungguhnya mereka telah lebih dahulu memilikinya d armada kalian.
Jika Anda berkata, bahwa telah terjadi bidah sepeninggal mereka, maka sesungguhnya bid'ah tersebut tidak diciptakan kecuali oleh orang yang berbeda Jalan dengan mereka dan la lebih mencintai dirinya daripada mereka. Sungguh mereka telah berbicara dari Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dengan perkataan yang tidak ada habis-habisnya, dan memberi sifat dari beliau dengan sifat yang tidak ada habis-habisnya. Sedang orang-orang selain mereka, maka mereka sangat pas-pasan, dan orang-orang di atas mereka tidak bisa berbuat baik seperti mereka. Sungguh, banyak sekali orang-orang yang bersikap tidak etis terhadap mereka, akibatnya mereka kasar tabiatnya. Dan Juga banyak sekail orang orang yang berambisi seperti mereka kemudian mereka bertindak berlebih-lebihan. Sedang generasi pertama Islam, mereka tidak seperti itu, namun mereka berada di atas jalan yang lurus." Imam Malik berkata, bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah berkata,
"Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan para penguasa sepeninggalnya telah membuat Sunnah-Sunnah. Mengambil Sunnah-Sunnah tersebut adalah membenarkan Kttabullah, menyempurnakan ketaatan kepada Allah, dan merupakan bentuk kekuatan terhadap agama Allah. Barangsiapa mengambil petunjuk dengan Sunnah-Sunnah tersebut, sungguh la telah mendapatkan petunjuk. Barangsiapa meminta pertolongan dengan Sunnah-Sunnah tersebut, ia ditolong. Barangsiapa menentangnya, ia mengikuti selain Jalan kaum Mukminin, Allah menguasakannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, dan neraka Jahannam adalah tempat kembali yang paling buruk."
Imam Malik berkata,
"Aku tertarik kepada Umar bin Abdul Aziz ketika la mewajibkan neraka bagi orang yang menentang Sunnah." Tentang ucapan Umar bin Abdul Aziz, "Merupakan bentuk kekuatan terhadap agama Allah,".
Imam Malik menambahkan,
"Siapa pun orangnya tidak berhak merubah Sunnah-Sunnah tersebut, atau menggantinya, atau menentang sedikit pun daripadanya."
12.            WASIAT AHMAD BIN HANBAL TENTANG MENDIAMKAN PELAKU BID'AH
Abu Ali Hanbal bin lshaq bin Hanbal berkata, bahwa seseorang menulis surat kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) Rahimahuttah. Dalam suratnya, orang tersebut meminta Imam Ahmad menulis buku tentang penolakannya terhadap para pelaku bid’ah, dan hadir di forum orang-orang filsafat kemudian mendebat mereka dan memberikan hujjah-hujjahnya kepada mereka. Lalu Imam Ahmad menulis surat kepada orang tersebut,
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga Allah memberi balasan yang baik kepadamu dan menjauhkan darimu apa saja yang tidak mengenakkan dan membahayakan! Sesungguhnya apa yang kita dengar, dan yang kita ketahui dari para ulama bahwa mereka tidak suka banyak bicara dan duduk dengan orang-orang sesat. Sesungguhnya segala persoalan itu harus diserahkan kepada Kitabullah atau Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan bukan duduk dengan orang-orang ahli bid'ah dan sesat, agar engkau bisa mengcounter mereka, karena mereka membuat kerancuan kepadamu. Jadi keselamatan Insya Allah ialah dengan meninggalkan majlis-majlis mereka dan tidak larut dalam bid'ah dan kesesatan mereka. Hendaklah setiap orang bertakwa kepada Allah, dan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat baginya kelak, yaitu amal shalih yang ia persembahkan untuk dirinya sendiri. Jangan la termasuk orang pembuat bid’ah.
Was Salaamu alaika."
Saya katakan, bahwa banyak sekail di antara ucapan-ucapan para Imam-imam salaf yang mirip dengan ucapan orang jujur kedua, ulama Rabbanl, Imam Ahlus Sunnah, dan pembela Islam pada hari-hari ujian, Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani. Ucapan-ucapan di atas lengkap dengan sanadnya dirangkum Syaikh, Imam, Al-Allamah Al-Hummam Abu Abdullah Ubaidilah bin Muhammad bin Baththah Al Ukbari dalam bukunya yang bermutu yang berjudul At-lbanatu 'an Syariati Al-Firqati An-naajiyati wa Mu-jaanabati At-Firaaqi At-Madzmumati jilid II hal. 429-483. Bacalah buku tersebut, karena ia bermutu. Sebagai contoh, cukuplah bagi Anda apa yang ditulis Al-Hummam Abu Abdullah Ubaidillah pada buku-nya jilid II hal. 429 seperti berikut, " Aku telah menjelaskan kepadamu wahai saudara-ku -semoga Allah menjagaku dan menjagamu dari terkena fitnah, dan melindungiku dan melindungimu dari cobaan- bahwa yang mendatangkan kematian ke dalam hati, dan memunculkan keragu-raguan ke dalam hati setelah sebelumnya yakin ialah studi, dan banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak terbebas dari fitnah. Sesungguhnya yang membuat hati sakit setelah sebelumnya sehat dan mencabut pahala sehat daripadanya tidak lain adalah berteman dengan orang yang menipu dan berteman dengannya menjerumuskan orang ke dalam neraka pada Hari Kiamat.
Adapun studi dan banyak bertanya, maka telah saya jelaskan. Jika engkau mendengarkan keteranganku tersebut dengan serius dengan petunjuk Allah keterangan tersebut bermanfaat bagimu. Engkau mendapatkan kepuasan di dalamnya dan merasa cukup dengannya. Adapun pergaulan, maka akan saya bacakan kepadamu. Jika engkau berpegang teguh kepadanya, maka bermanfaat bagimu. jika engkau ingin bergaul dengan Allah, maka semoga Allah memberi hidayah kepadamu."
Setelah Itu, Syaikh Al-Humam Abu Abdullah mengetengahkan ayat-ayat, hadits-hadits, dan atsar-atsar. la mengemukakannya dengan kata-kata yang mengisyaratkan kecerdasannya, dan larangan menjauhi majlis-majlis pelaku bidah dan pengekor hawa nafsu, serta bahwa orang-orang yang melakukan itu semua berada dalam tepi fitnah, kendati mereka mengklaim tidak sama dengan mereka. Kita berlindung diri kepada Allah dan su'ul khatimah. Contohnya Ialah ucapan Syalkh Al-Humam Abu Abdullah pada bukunya Jlld II hal. 470 seperti berikut,
"Demi Allah, wahai kaum Muslimin, janganlah dugaan baik salah seorang dari kalian terhadap dirinya, dan pengetahuannya akan kebenaran madzhabnya membuatnya mempertaruhkan agamanya dengan duduk bersama sebagian pengekor hawa nafsu dengan berkata, 'Aku masuk kepadanya dengan maksud mendebatnya atau mengeluarkannya dari madzhabnya.' Karena sesungguhnya mereka lebih besar fitnahnya daripada fitnah Dajjal, ucapan mereka lebih lengket daripada kaos kaki dengan kaki, dan mereka lebih membakar hati daripada kobaran api yang menyala-nyala. Sungguh, aku pernah melihat sekelompok orang mengecam mereka dan duduk bersama mereka dalam rangka mengcounter pemikiran mereka. Mereka merahasiakan makarnya, dan menghaluskan kekafirannya hingga akhirnya
kekafiran mereka pindah kepada sekelompok orang tersebut." Saya katakan, bahwa Syaikh Al-Humam Abu Abdullah benar ucapannya, karena hal tersebut kita lihat dengan mata kepala kita. Banyak sekali muncul aliran yang mengklaim meniru manhaj generasi salaf, padahal mereka tidak meniru manhaj generasi salaf, namun karena alasan alas an  tertentu yang sengaja dirahasiakan. Mereka bergaul dengan pengekor hawa nafsu dengan slogan Ingin mendebat mereka, dan membongkar kedok mereka. Sayang-nya, mereka tidak menoleh kepada pendapat-pendapat generasi salaf yang ahli tentang para pengekor hawa nafsu tersebut, dan telah menguji madzhab-madzhab mereka yang salah, serta memperingatkan bahaya fitnah yang penuh petaka ini. Al-Humam Abu Abdullah berkata di bukunya Jlld II, hal 482,
"Semoga Allah merahmati para Imam sebelum kita dan guru-guru yang telah meninggalkan kita. Sungguh mereka telah memberi nasihat kepada kita. Semoga Allah mengunpulkan kita dan mereka bersama para Nabi, orang orang yang jujur, para syuhada', dan orang-orang shalih, karena mereka adalah sebaik-baik teman. Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk imam-imam yang menyesatkan, dan salah seorang dari ummat yang menentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, memerangi beliau, mencela Sunnahnya, mencaci maki sahabat-sahabatnya, dan mengajak manusia kepada penipuan dan kesesatan."
Saya katakan, "Semoga Allah merahmati para imam generasi salafush shalih yang lebih dahulu beriman dan berilmu daripada kita. Sungguh mereka telah menasihati kita dan mereka benar dalam nasihatnya, karena pemandu itu tidak akan membohongi pengikut-pengikutnya. Permasalahan Ini tidak akan terjadi seperti yang kita lihat sekarang seandainya manusia mencontoh generasi salaf. Namun mereka bicara banyak sebelum mereka diisi ilmu, dan memaksa tampil sebelum matang. Mereka memaksa sampai pada tujuan tertentu padahal mereka belum layak sampai kepadanya. Mereka tidur dari ilmu dan tidak bangun-bangun. Mereka mengendali kendaraan kebatilan untuk mengejar keburukan, dan membangun rumah di mata air ilmu. Dengan cara cara seperti itu, mereka ingin dihormati. Ya Allah, kami adukan kepada-Mu bukti yang ada di dalam ilmu ilmu syar’i-Mu ini. Al-Allamah Abu Qasim Al-Lalakal berkata dalam bukunya yang berjudul Syarhu Ushull i'tiqaadl Ahli As-Sunnati wa Al-Jamaati Jilid I hal 17-20,
"Generasi demi generasi telah berlalu hingga zaman memberikan pukulan pukulannya dan menampakkan peristiwa-peristiwa yang dimilikinya. Muculah kaum yang mengklaim bahwa mereka merupakan generasi pengganti generasi sebelumnya, dan bahwa mereka lebih banyak karyanya daripada generasi sebelumnya. Mereka Juga mengakui lebih hebat dalam mengungkap fakta-fakta ilmiah, lebih tepat penjelasannya, lebih baik hasil penyelidikannya, bahwa generasi-generasi terdahulu tidak mengadakan penelitian karena ketidakmampuan mereka, mereka menolak berdialog dengan para pengekor hawa nafsu karena ilmunya sedikit, dan bahwa membela madzhab Itu dengan mendebat orang-orang sesat tersebut. Itulah yang terjadi hingga mereka merubah kebaikan menjadi keburukan, usang
menjadi baru, dan berpaling dari ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dibawa dari Allah, Allah mewajibkan manusia berdakwah kepadanya, dan Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka dengan memberi hidayah kepada mereka. Allah befirman.
'Dan Ingatlah nikmat Allah pada kalian, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian yaitu Al Kitab (Al Qufan) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepada kalian dengan apa yang diturunkan-Nya itu. ' (Al-Baqarah: 231).
Pada ayat di atas, Allah Azza wa Jalla mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan Kitab-Nya dan menghimbau mereka mengikuti Sunnah Rasul-Nya. Allah Ta 'ala beflrman pada ayat yang lain,
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Hikmah dan pelajaran yang baik. "(An-Nahl: 125).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar